,

Animals in the Eyes of Accounting

Satwa, menurut Undang-Undang No. 5 Tahun 1990, adalah semua jenis sumber daya alam hewani yang hidup di darat, dan/atau di air, dan/atau di udara. Satwa merupakan salah satu sumber daya alam yang dimanfaatkan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu bentuk umum pemanfaatan satwa tersebut adalah untuk diperjualbelikan dan diambil hasil produksinya, contohnya seperti satwa di peternakan. Akan tetapi, terdapat juga satwa yang dilindungi manusia, dengan tujuan menghindari perburuan dan kepunahan, yang biasanya ditempatkan di kebun binatang. Meskipun keduanya termasuk golongan satwa, terdapat perbedaan dalam perlakuan akuntansi terkait pengakuan bagi satwa di peternakan dengan di kebun binatang.

Pada umumnya, akuntansi mengakui satwa sebagai aset biologis. Menurut IAS 41, aset biologis adalah makhluk hidup seperti satwa maupun tumbuhan hidup yang melalui transformasi biologis mampu menyebabkan perubahan secara kualitatif dan kuantitatif pada aset itu sendiri sehingga memungkinkan perubahan manfaat dari segi ekonomis di masa mendatang. Di Indonesia sendiri, standar akuntansi yang menjelaskan mengenai aset biologis diatur dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 69. 

Menurut PSAK 69, aset biologis diakui saat memenuhi beberapa kriteria yang sama dengan kriteria pengakuan aset. Selain itu, aset biologis akan diukur pada saat pengakuan awal dan akhir periode pelaporan keuangan pada nilai wajar dikurangi dengan biaya untuk menjual. Peternakan, yang memang mengimplementasikan PSAK ini, mengakui satwanya pada nilai wajar yang dapat diukur secara andal saat tiba di peternakan dan jika terjadi kelahiran. Pada umumnya, satwa di peternakan dapat dan seringkali diperjualbelikan di pasar sehingga pengakuan harga atau nilai di pasar tersebut akan menjadi acuan bagi penentuan nilai wajar satwa. Nilai wajar dari aset biologis yang diperjualbelikan ini harus dapat diukur secara andal dan nantinya dikurangi dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk menjual. Akan tetapi, jika satwa di peternakan tidak memiliki harga pasar, alternatif yang dapat digunakan untuk mengukur nilai wajar satwa adalah dengan mengestimasikan manfaat ekonomi berdasarkan produk agrikultur yang dihasilkan. Dapat disimpulkan bahwa karena pengukuran nilai wajar satwa di peternakan dapat diukur secara andal, maka mereka dapat dikategorikan sebagai aset biologis. Namun, bagaimana dengan satwa di kebun binatang yang termasuk dalam satwa dilindungi?

Satwa di kebun binatang terbilang belum tepat bila dikategorikan sebagai aset biologis karena sulit ditentukan nilai wajarnya yang diakibatkan oleh tidak adanya riwayat jual beli yang konsisten dari satwa tersebut. Selain itu, satwa di kebun binatang tidak dapat dikategorikan sebagai aset biologis karena mayoritas kebun binatang merupakan organisasi nirlaba yang tidak memiliki basis objektif untuk mengevaluasi nilai wajar satwanya. Sebagai contoh, yaitu kebun binatang San Diego yang mengakui dan mencatat koleksi satwanya sebanyak $1 dikarenakan kesulitan dalam mengevaluasi nilai wajar satwanya secara andal sebab bergerak secara nirlaba, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa hewan di kebun binatang lebih bervariatif dibanding hewan di peternakan dari segi  spesies, umur, jenis kelamin, hubungan dengan hewan lain, dan status, sehingga semakin menyulitkan penentuan nilai wajarnya. Oleh karena itu, koleksi satwa pada kebun binatang tidak diakui sebagai aset biologis, tetapi diakui sebagai biaya pada periode pengakuan dan sebagai pendapatan pada periode penjualan. 

Nyatanya, tidak semua kebun binatang bergerak secara nirlaba. Bila kebun binatang tersebut merupakan organisasi yang mencari laba dan satwa di kebun binatang tersebut memiliki harga pasar dan biaya pada saat penilaiannya, mereka dapat diakui sebagai aset tetap. Penner dan Saini (2015) dalam jurnalnya memberikan contoh bahwa Zoo World membeli 10 jerapah dengan harga $25.000 untuk setiap jerapah. Selain itu, terdapat biaya perawatan dokter sebesar $10.000 dan biaya transport sebesar $20.000 untuk sepuluh jerapah tersebut. Oleh karena itu, diperoleh pengakuan pencatatan Zoo World sebesar $28.000 untuk setiap jerapah yang berasal dari $((25.000 x 10)+10.000+20.000)/10. Selain pengukuran nilai wajar, pengukuran umur manfaat ekonomis dari jerapah tersebut juga dapat dilakukan sehingga Zoo World dapat melakukan depresiasi seperti pada aset tetap lainnya. Berikutnya, jerapah yang dibeli tersebut berumur 5 tahun dengan asumsi manfaat umur maksimal 25 tahun sehingga diperoleh manfaat umur tersisa 20 tahun serta nilai depresiasi sebesar $1.400 setiap satu tahun untuk satu jerapah. Jerapah tersebut memberikan manfaat ekonomis di masa depan dan terdapat biaya perolehan yang dapat diukur secara andal. Oleh karena itu, satwa tersebut dapat digolongkan sebagai aset dan telah diperlakukan dengan tepat terkait pengakuan dan pengukurannya. 

Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, dapat diketahui bahwa ternyata akuntansi memiliki perlakuan yang berbeda terhadap satwa di kebun binatang dan di peternakan. Satwa di peternakan dikategorikan sebagai aset biologis karena dapat ditentukan nilai wajar serta manfaat ekonominya di masa mendatang secara andal. Sementara itu, kebun binatang, yang umumnya berbentuk organisasi nirlaba, tidak memiliki basis objektif untuk mengevaluasi nilai wajar satwanya. Dengan tidak adanya riwayat jual beli satwa yang konsisten serta variasi satwa di kebun binatang yang lebih banyak dibandingkan dengan di peternakan, penentuan nilai wajar satwa di kebun binatang menjadi tidak praktis. Oleh karena itu, mayoritas satwa di kebun binatang tidak diakui sebagai aset, tetapi diakui sebagai biaya. Namun, jika kebun binatang tersebut merupakan organisasi yang mencari laba dan satwanya memiliki nilai pasar serta biaya pada saat penilaian, satwa tersebut dapat diakui sebagai aset. Dengan demikian, meskipun sama-sama dikategorikan sebagai satwa, satwa di peternakan dengan satwa di kebun binatang memiliki perlakuan akuntansi berbeda karena tujuan, sifat, serta tingkat kesulitan penentuan nilai wajar yang berbeda.

 


Penulis:
Irene Rosari dan Putri Nainggolan
Illustrator:
Linda Ariyani

References

Dermawan, M. I. (2018). Pengakuan, Penilaian Dan Pengungkapan “Aset” Satwa Di Lembaga Konservasi. Universitas Diponegoro.

Farmi, M., Sebayang, M. M., Harahap, R. U., & Sanjaya, S. (n.d.). (2017). Nilai Wajar Satwa. Simposium Ilmiah Akuntansi I.

LLP, CohnReznick. (2018). Zoological Society of San Diego dba San Diego Zoo Global Consolidated Financial Statements and Independent Auditor’s Report.

Nazaroedin, F. N. (2019). Akuntansi Hewan Ternak (Studi Kasus Pada Kementerian Pertanian).Retrieved September 2, 2020, from http://www.ksap.org/sap/wp-content/uploads/2019/02/SAP2_Kajian-Akuntansi-Hewan-Ternak.pdf

Penner, J., & Saini, J. S. (2015). Accounting for Giraffes at a For-Profit Zoo – A Case Study. International Journal of Accounting and Financial Reporting, 1(1).

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *