Apa yang terlintas di pikiranmu saat pertama kali mendengar kata audit? Apakah profesi auditor? Apakah opini atas laporan keuangan? Kedua istilah tersebut memang erat kaitannya dengan audit. Namun, audit sesungguhnya tidak hanya sebatas pemeriksaan laporan keuangan saja, tetapi juga mencakup segala proses pengumpulan da pengevaluasian bukti-bukti informasi untuk menentukan apakah informasi yang ada sudah sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Auditor, selaku pihak yang melakukan audit, nantinya akan melaporkan hasil audit tersebut kepada pihak yang berkepentingan. Salah satu objek audit selain laporan keuangan adalah kegiatan operasional suatu perusahaan, tak terkecuali jasa pelayanan kesehatan.

Menurut UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, upaya kesehatan merupakan kegiatan yang dilakukan secara terpadu, terintegrasi, dan berkesinambungan untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pelayanan kesehatan secara preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif. Adapun upaya kesehatan tersebut dilakukan oleh tenaga kesehatan, seperti dokter, perawat, apoteker, epidemiolog, dan sebagainya. Hingga saat ini, tenaga kesehatan senantiasa mengalami berbagai dinamika dalam melakukan pelayanan kesehatan dengan salah satunya, yaitu kesalahan medis ​(medical error).​

Arti kesalahan medis ​(medical error) ​dapat dilihat dari 2 sisi, yaitu gagal menyelesaikan rencana medis yang sudah ditetapkan atau salah memilih rencana medis untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan kata lain, ​error ​dalam bidang medis dapat terjadi dalam 2 kondisi. Kondisi pertama, yaitu ketika tenaga medis sudah menyusun rencana medis dengan benar, tetapi tindakan yang dilakukan tidak tepat sehingga hasilnya tidak sesuai dengan tujuan. Contohnya adalah bagian tubuh pasien yang seharusnya dioperasi adalah paru-paru kanan, tetapi saat operasi dilaksanakan, dokter melakukan operasi pada bagian paru-paru kiri. Kondisi kedua, yaitu ketika tenaga medis menyusun rencana medis yang salah sehingga hasilnya juga salah. Sebagai contoh, yaitu ketika seorang dokter mengira bahwa pasiennya mengalami demam biasa sehingga diberikan obat penurun demam, padahal pasien ternyata mengalami tifus.

Berbagai kesalahan medis tersebut seharusnya dapat dihindari melalui penerapan clinical governance.​ Tata kelola klinis​ (clinical governance) a​dalah suatu sistem di dalam lingkungan kerja rumah sakit yang bertujuan untuk menjamin bahwa para tenaga kesehatan memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar yang telah ditetapkan sehingga keselamatan pasien lebih terjamin dan terlindungi. Selain melalui ​clinical governance​, kesalahan medis juga dapat dicegah melalui audit medis.

Sebagai salah satu upaya untuk mencegah terjadinya kesalahan medis, audit medis hadir dalam bentuk analisis secara kritis dan sistematis terhadap kualitas pelayanan kesehatan, termasuk prosedur yang digunakan untuk diagnosis atau pengobatan, penggunaan sumber daya, dan hasil serta kualitas hidup pasien. Salah satu pihak yang melakukan audit medis dalam suatu tatanan pelayanan jasa kesehatan, yaitu Komite Medis. Audit medis dilakukan dengan mengutamakan respek terhadap semua staf medis ​(no blaming culture) dengan cara tidak menyebutkan nama ​(no naming)​, tidak mempersalahkan ​(no blaming)​, serta tidak mempermalukan ​(no shaming).​

Langkah-langkah pelaksanaan audit medis ini terdiri dari pemilihan topik yang akan dijadikan objek audit, penetapan standar dan kriteria, penetapan jumlah kasus yang akan diaudit, perbandingan antara standar dan pelaksanaan pelayanan, pelaksanaan analisis kasus yang tidak sesuai standar dan kriteria, perbaikan, serta perencanaan re-audit. Adapun pelaksanaan audit medis harus memenuhi 4 peran penting, yaitu sebagai sarana untuk melakukan penilaian terhadap kompetensi staf-staf medis pemberi pelayanan di rumah sakit, dasar untuk memberikan kewenangan klinis ​(clinical privilege) sesuai kompetensi yang dimiliki, dasar bagi komite medis dalam merekomendasikan pencabutan atau penangguhan kewenangan klinis, serta dasar bagi komite medis dalam merekomendasikan perubahan atau modifikasi rincian kewenangan klinis seorang staf medis.

Implementasi audit medis sendiri memiliki peran nyata pada masa pandemi COVID-19 saat ini. Pada Selasa, 13 September 2020, jumlah dokter di Indonesia yang meninggal dunia akibat COVID-19 mencapai 115 orang. Dalam rangka menekan jumlah korban jiwa dari tenaga kesehatan akibat COVID-19, PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia) membentuk tim audit yang bertugas untuk mendalami kematian dokter sepanjang pandemi. Informasi yang akan dikumpulkan tim audit adalah faktor risiko dan penyebab tenaga medis meninggal (apakah dokter tersebut terinfeksi virus COVID-19 atau tidak) serta perkiraan waktu dan lokasi terpapar jika dokter meninggal akibat COVID-19. Hasil atau informasi dari tim audit tersebut nantinya akan dijadikan pertimbangan dalam membuat regulasi yang berkaitan dengan cara dokter berhubungan dengan pasien agar tidak ikut terkena COVID-19.

Berdasarkan contoh implementasi audit medis di atas, dapat disimpulkan bahwa objek audit bukan hanya laporan keuangan, melainkan juga kegiatan operasional suatu organisasi, tak terkecuali pelayanan kesehatan, seperti rumah sakit. Dengan adanya audit medis, diharapkan bahwa kualitas pelayanan medis tetap terjaga sehingga keselamatan pasien lebih terjamin. Di sisi lain, keselamatan dokter juga terjamin ketika melaksanakan pengobatan kepada pasiennya. Dengan kata lain, audit medis melalui evaluasi secara profesional terhadap kualitas pelayanan medis diharapkan dapat menghasilkan sistem kesehatan yang lebih baik.


Penulis:
Fransiska Alma

Illustrator:
Josephine Shea

References

Anisa, D. F. (2020, Agustus 4). ​Kesehatan​. Retrieved Agustus 28, 2020, from Berita Satu: https://www.beritasatu.com/irawati-diah-astuti/kesehatan/662241/bentuk-tim-audit-idi -telusuri-kematian-dokter-selama-pandemi

Cahyono, J. B. (2008). ​Membangun Budaya Keselamatan Pasien Dalam Praktik Kedokteran. Yogyakarta: Kanisius.

DPR RI. (n.d.). ​JDIH.​ Retrieved September 9, 2020, from Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia: http://www.dpr.go.id/jdih/index/id/1618

Harsono, F. H. (2020, April 6). ​Health​. Retrieved September 14, 2020, from Liputan6.com: https://www.liputan6.com/health/read/4220854/telusuri-kematian-dokter-terkait-covid -19-idi-bentuk-tim-audit

Kementerian Kesehatan. (2017, Maret 13). ​Regulasi.​ Retrieved Agustus 28, 2020, from Inspektorat Jenderal Kementerian Pertahanan Republik Indonesia: https://www.kemhan.go.id/itjen/2017/03/13/peraturan-menteri-kesehatan-republik-ind onesia-nomor-755menkesperiv2011-tentang-penyelenggaraan-komite-medik-di-ruma h-sakit.html

Lesmonojati, S. (2020). ​Pertanggungjawaban Pidana atas Perbuatan Kelalaian pada Tindakan Medis di Rumah Sakit.​ Surabaya: Scopindo Media Pustaka.

Montesi, G., & Lechi, A. (2009). Prevention of Medication Errors: Detection and Audit. British Journal of Clinical Pharmacology,​ 651-655.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *