,

Kemelut Laporan Keuangan Garuda Indonesia 2018

Laporan keuangan merupakan cerminan kondisi finansial suatu perusahaan. Perusahaan mulai dari yang tergolong mikro dan kecil hingga besar tentu saja ingin memiliki pendapatan dan laba yang besar agar memiliki laporan keuangan yang terbilang “cantik”. Namun, terkadang perusahaan melakukan cara yang kurang tepat dalam memperoleh laporan keuangan yang terlihat “cantik” tersebut.

Baru-baru ini, laporan keuangan yang dirilis oleh PT Garuda Indonesia menimbulkan sebuah kontroversi. Dua orang komisaris PT Garuda Indonesia menolak untuk menandatangani laporan keuangan yang disajikan untuk periode 2018. Kedua orang tersebut adalah Chairal Tanjung dan Dony Oskaria, perwakilan dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd, selaku pemilik dan pemegang 28,08% saham PT Garuda Indonesia. Hal tersebut terjadi karena dalam laporan keuangan PT Garuda Indonesia pada tahun 2018 menunjukan bahwa PT Garuda Indonesia memperoleh laba bersih sebesar US$809,84 ribu atau Rp11,33 miliar (Rp14.000 per dolar Amerika Serikat), padahal pada tahun-tahun sebelumnya, PT Garuda Indonesia selalu mengalami kerugian. Hal ini tentu mencuri perhatian orang-orang, tak terkecuali dua komisaris PT Garuda Indonesia tersebut.

Pada tanggal 31 Oktober 2018, yang diperbaharui pada tanggal 26 Desember 2018 lalu, PT Garuda Indonesia melakukan kerjasama dengan PT Mahata Aero Teknologi, sebuah perusahaan rintisan (startup) penyedia wifi on board dalam bentuk pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hiburan dalam pesawat beserta manajemen konten. Kontrak kerja tersebut memiliki nilai mencapai 239,94 juta dollar AS atau setara dengan Rp2,98 triliun. PT Mahata Aero Teknologi memiliki komitmen untuk menanggung seluruh biaya, termasuk di dalamnya jika terjadi kerusakan, tetapi pada kenyataannya hingga saat ini, PT Mahata Aero Teknologi baru membayar sebesar 6,8 juta dollar AS.

PT Garuda Indonesia sendiri telah mengakui transaksi kerjasama dengan PT Mahata Aero Teknologi sebagai pendapatan pada tahun 2018. Padahal, jika transaksi ini tidak diakui sebagai pendapatan, maka PT Garuda Indonesia akan mengalami kerugian sebesar 244.958.308 dollar AS. Kedua komisaris PT Garuda Indonesia yaitu Chairal Tanjung dan Dony Oskaria berpendapat bahwa hal yang dilakukan oleh PT Garuda Indonesia tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) nomor 23 paragraf 28 dan 29. Paragraf 28 menjelaskan bahwa pendapatan yang timbul dari penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalti, dan dividen dapat diakui dengan dasar yang dijelaskan di paragraf 29, yaitu jika kemungkinan besar manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan mengalir ke entitas dan jumlah pendapatan dapat diukur secara andal. Berdasarkan pernyataan yang tercantum dalam PSAK 23 paragraf 28 dan 29, maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan hanya dapat diakui jika imbalan/royalti kemungkinan besar akan diterima. Kemungkinan tersebut dapat diukur secara andal melalui pendapatan tetap dan jaminan yang tidak dapat dikembalikan.

Dalam kerjasama yang dilakukan antara PT Garuda Indonesia dan PT Mahata Aero Teknologi tersebut, terdapat beberapa syarat pengakuan pendapatan yang tidak dipenuhi. Pertama, dalam perjanjian yang telah disepakati tidak tercantum terms of payment yang jelas mengenai pembayaran yang akan dilakukan. Kedua, ketiadaan jaminan pembayaran yang tidak dapat ditarik kembali oleh PT Mahata Aero Teknologi terhadap PT Garuda Indonesia. Ketiga, mengacu kepada surat Mahata No.A.031/Dir/MAT/III/2019 tanggal 20 Maret 2019, ketentuan dan skema pembayaran yang tertulis di dalam surat masih dapat berubah mengacu kepada kondisi keuangan PT Mahata Aero Teknologi. Oleh karena itu, berdasarkan penjelasan yang telah dijabarkan pada PSAK 23 pasal 28 dan 29, seharusnya perjanjian kerjasama antara PT Garuda Indonesia dan PT Mahata Aero Teknologi belum boleh diakui sebagai pendapatan.

Pengakuan pendapatan yang dilakukan oleh PT Garuda Indonesia tentunya akan membawa beberapa dampak bagi perusahaan. Pertama, laporan keuangan PT Garuda Indonesia 2018 dapat menyebabkan terjadinya misleading bagi para pengguna laporan keuangan. Kedua, adanya potensi penyajian kembali laporan keuangan tahun 2018 yang merusak kredibilitas perusahaan. Ketiga, pengakuan pendapatan tersebut dapat menyebabkan kerugian bagi perusahaan dari segi materil dengan adanya pembayaran pajak baik Pajak Penghasilan (PPh) maupun Pajak Pertambahan Nilai (PPN) yang dibayarkan sebelum waktunya.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa ketidaktepatan dalam pencatatan transaksi antara PT Garuda Indonesia dengan PT Mahata Aero Teknologi. Sudah sewajarnya kedua komisaris menolak menandatangani laporan keuangan PT Garuda Indonesia tahun 2018 tersebut karena laporan keuangan merupakan aspek penting yang akan mempengaruhi berbagai macam pengambilan keputusan. Laporan keuangan yang tidak sesuai dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap perusahaan maupun masyarakat, terlebih karena PT Garuda Indonesia merupakan perusahaan yang kepemilikannya telah terdaftar dalam Bursa Efek Indonesia. Selain itu, sudah sepatutnya bagi seorang akuntan untuk memiliki integritas yang tinggi, terlepas dari apapun kondisi yang ada.

 

 

 

Daftar Pustaka

Indonesia, C. (2019, April 24). Membedah Keanehan Laporan Keuangan Garuda Indonesia 2018. Retrieved May 2019, 3, from cnnindonesia.com: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20190424204726-92-389396/membedah-keanehan-laporan-keuangan-garuda-indonesia-2018?

Jannah, S. M. (2019, April 26). Laporan Keuangan Garuda Indonesia: Tak Wajar dan Memicu Kontroversi. Retrieved May 3, 2019, from tirto.id: https://tirto.id/laporan-keuangan-garuda-indonesia-tak-wajar-dan-memicu-kontroversi-dnan

Melani, A. (2019, April 26). Dua Komisaris Tolak Laporan Keuangan Garuda, Ada Apa? Retrieved May 3, 2019, from liputan6: https://www.liputan6.com/bisnis/read/3950693/dua-komisaris-tolak-laporan-keuangan-garuda-ada-apa

Rosana, F. C. (2019, April 25). Laporan Keuangan Garuda Janggal, Ini Keberatan Dua Komisaris. Retrieved May 3, 2019, from Tempo.co: https://bisnis.tempo.co/read/1199049/laporan-keuangan-garuda-janggal-ini-keberatan-dua-komisaris

Sugianto, D. (2019, April 24). Ini Transaksi ‘Aneh’ yang Bikin Garuda Indonesia Bisa Untung. Retrieved May 3, 2019, from detikfinance: https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-4523471/ini-transaksi-aneh-yang-bikin-garuda-indonesia-bisa-untung

 

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *