,

Press Release: Auditing Group Discussion II

Pada hari Rabu, 27 November 2019 telah berlangsung salah satu program kerja Auditing Study Division Studi Profesionalisme Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (SPA FEB UI) yaitu Group Discussion di kantor Ernst & Young (EY) Indonesia. Acara ini diikuti oleh sembilan pengurus Auditing Study Division dan lima mahasiswa Akuntansi FEB UI yang terpilih melalui Group Discussion Quiz. Group Discussion kali ini mengangkat tema “Save the World Through Environmental Audit” yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan kesadaran peserta akan pentingnya environmental audit bagi perusahaan dan stakeholder terkait. Group Discussion dibawakan oleh tiga orang perwakilan dari EY Indonesia yang terdiri dari Ibu Ika Merdekawati, Manager dari Divisi Climate Changes and Sustainability Services sebagai pemateri utama kali ini, didampingi oleh Ibu Michelle Tjia dan Ibu Meri Heryani.

 

Diskusi dibagi menjadi lima sesi utama. Sesi pertama membahas mengenai Sustainability and Climate Changes secara umum. Berdasarkan pemaparan yang diberikan oleh Ibu Ika, sustainability adalah bagaimana suatu entitas menghasilkan value yang berguna dalam jangka panjang dengan menggunakan opportunity yang ada dan melalui manajemen risiko atas kegiatan perusahaan yang berdampak pada faktor sosial, lingkungan, dan ekonomi. Upaya untuk mewujudkan terjadinya sustainability ini dilakukan dalam skala internasional maupun nasional. Dalam skala internasional terdapat beberapa forum maupun perjanjian terkait sustainability seperti COP 21 Paris, Global Reporting Initiative (GRI) Standards, serta Sustainable Stock Exchange Initiative. Indonesia sendiri berperan mewujudkannya melalui perjanjian untuk mengurangi emisi karbon hingga 26% di tahun 2020 dan 29% di tahun 2030. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan selaku pengatur lembaga keuangan di Indonesia juga telah mengeluarkan regulasi berupa POJK No. 51/POJK.03/2017 dan POJK No. 60/POJK.04/2017 terkait sustainable financial action yang bertujuan untuk mengatur penyaluran dana dari institusi keuangan kepada perusahaan yang memiliki sustainability report kurang baik.

 

Sesi berikutnya membahas mengenai Sustainability Challenges in Indonesia. Terdapat tiga tantangan utama untuk mewujudkan sustainability di Indonesia, yaitu kebijakan yang kurang efektif, kurangnya pengetahuan dan kesadaran terkait lingkungan, serta tidak adanya aksi nyata untuk mencapai Sustainability Development Goals (SDG) oleh pemerintah Indonesia. Alasan ini didukung oleh fakta bahwa Indonesia telah kehilangan hampir 40% hutan mangrovenya, dan Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Hal ini menyebabkan dana yang dibutuhkan untuk mencapai SDG berdasarkan dokumen Low Carbon Development Initiatives (LCDI) yang dirilis oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sangat tinggi. Berdasarkan dokumen tersebut, diperlukan investasi sebesar US$14.8 miliar per tahun untuk mengurangi emisi hingga 20% di tahun 2020 dan tambahan investasi sebesar US$40.9 miliar per tahun untuk mengurangi emisi sebesar 29% di tahun 2030. Pelaksanaan LCDI ini menjadi penting karena dapat meningkatkan pertumbuhan gross domestic product (GDP) hingga 6%, mengurangi tingkat kematian hingga 40.000 kasus kematian akibat emisi, hingga peningkatan kualitas udara yang belakangan ini semakin memburuk akibat aktivitas pembakaran hutan maupun pabrik.

 

Untuk menghadapi tantangan tersebut, peran laporan non-finansial seperti sustainability report menjadi penting. Tren saat ini juga memperlihatkan bahwa investor pun mulai memperhatikan laporan non-finansial untuk memutuskan kemana mereka akan menginvestasikan uang mereka. Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) yang menjadi insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan performa sustainability mereka. Insentif tersebut berupa label yang disematkan bagi perusahaan dengan sustainability performance yang baik. Selain insentif tersebut, perusahaan juga mendapat keuntungan lain seperti mengurangi risiko terhadap munculnya gugatan hukum dan dijatuhkannya sanksi, meningkatkan performa finansial dan operasional perusahaan, serta meningkatkan komunikasi dengan stakeholder terkait performa perusahaan dari segi sustainability.

 

Parameter dalam menilai sustainability performance perusahaan ialah melalui sustainability report assurance yang berfungsi untuk menggambarkan kredibilitas komitmen perusahaan terhadap sustainability. Dengan melakukan assurance terhadap sustainability report perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan seluruh stakeholder serta meningkatkan value dari perusahaan. Framework yang digunakan dalam sustainability report assurance berbeda dengan financial report assurance. Perbedaanya terletak pada tiga hal, yakni subjek dan kriteria yang digunakan, prinsip-prinsip yang diterapkan, serta prosedur yang dilakukan. Terdapat dua standar yang digunakan dalam melakukan sustainability report assurance yaitu ISAE 3000 dan SPA 3000. Dari keduanya, ISAE 3000 menjadi standar yang lebih sering digunakan dalam melakukan sustainability report assurance.

 

Setelah berjalan selama 120 menit, acara ditutup dengan pemberian penghargaan kepada ketiga pemateri dari EY Indonesia. Melalui Group Discussion ini, kami berharap peserta bisa mendapatkan gambaran terkait environmental audit serta pentingnya audit terhadap laporan non-finansial seperti sustainability report. Sampai jumpa pada Auditing Group Discussion selanjutnya!

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *