Posts

Pada hari Sabtu, 25 September 2021 yang lalu telah dilaksanakan Audit Simulation 2021. Acara ini merupakan program kerja dari Auditing Study Division SPA FEB UI yang ditujukan untuk mahasiswa S1 Akuntansi Program Reguler/Paralel/Kelas Khusus Internasional angkatan 2018 dan 2019. Tahun ini, Audit Simulation 2021 mengangkat tema “Exploring Audit in Specific Industries” dengan kembali menyimulasikan audit forensik di samping praktik audit industri spesifik. Tujuan diadakannya acara ini adalah menjadi wadah bagi para mahasiswa S1 Akuntansi untuk menyalurkan ketertarikannya terhadap bidang audit eksternal dan audit forensik, dengan harapan peserta Audit Simulation mendapat gambaran pekerjaan seorang auditor.

Acara yang diikuti oleh 60 mahasiswa program studi Akuntansi FEB UI ini berlangsung pada pukul 10.30 – 17.00 WIB menggunakan platform Zoom. Acara dimulai sekitar pukul 10.30 WIB dengan rangkaian acara pembukaan berupa sambutan dari Kepala Program Studi Akuntansi S1 FEB UI, Ibu Dyah Setyaningrum yang dilanjutkan oleh Controller SPA FEB UI, Patrick Agustinus dan Project Manager Audit Simulation 2021, Fransiska Alma. Sambutan terakhir diberikan oleh Partner Ernst & Young Indonesia, Ibu Rindra Sulindro. Setelah sambutan dari pihak Akuntansi FEB UI dan Ernst & Young Indonesia, acara Audit Simulation diawali dengan mini seminar untuk memberikan pembekalan bagi peserta mengenai gambaran tentang praktik audit pada beberapa industri spesifik dan juga audit forensik.

Acara inti dari Audit Simulation adalah pengerjaan kasus audit di empat pos yang disediakan panitia. Keempat pos tersebut adalah pos Banking, pos Mining, pos Oil & Gas, dan pos Forensic. Di setiap pos tersebut, terdapat lima tim yang diberikan waktu 40 menit untuk menyelesaikan case yang diberikan. Peserta berperan sebagai Associate yang bertugas mengumpulkan data dan mencari temuan dalam setiap posnya untuk menyelesaikan working paper. Peserta sebagai Associate juga didampingi oleh fasilitator dari Ernst & Young Indonesia yang berperan sebagai Senior Associate atau Client. Senior Associate bertugas untuk memberikan arahan kepada para Associate (peserta), sedangkan Client akan memberikan data-data yang dibutuhkan oleh para peserta. Setelah mengerjakan case, pihak Ernst & Young memberikan feedback dan case solution.

Setelah seluruh pengerjaan case selesai, rangkaian acara terakhir adalah pemberian feedback dan kesimpulan dari pelaksanaan Audit Simulation secara keseluruhan. Foto bersama antara peserta, panitia, dan fasilitator dari Ernst & Young Indonesia menjadi penutup acara Audit Simulation 2021: Exploring Audit in Specific Industries. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti acara Audit Simulation dan pihak Ernst & Young Indonesia yang telah memfasilitasi acara ini. Sampai bertemu di Audit Simulation tahun depan!

Greetings, future auditors!

The biggest and oldest auditing competition and conference held by students of Universitas Indonesia is now open for registration.

This year, in collaboration with Grant Thornton and ACCA, we invite you to experience the challenging life of auditors by facing cases and situations that will be given.

Challenge yourself on Audit Planning and Audit Simulation, and give it a try of what it’s like being a real auditor!

Download the booklet to get more information, by clicking this link bit.ly/BookletCompetitionThe20thATV

Furthermore, The 20th ATV is inviting you to join the conference by sending papers with our conference theme “Financial Shenanigans: How Auditors’ Integrity and Independency are being Tested”.

Download the booklet to get more information, by clicking this link bit.ly/BookletConferenceThe20thATV

Register now at www.atv-febui.com/registration

For more information, please contact us on:
Phone: Balqisa (0878-8247-0053)
E-mail: info@atv-febui.com
LINE@: @atvfebui
Instagram: @atvfebui
Linkedin: ATV FEB UI

The 20th ATV
#ActualizingTheVision

Pada Jumat, 27 November 2020, telah berhasil dilaksanakan program kerja tahunan dari Auditing Study Division Studi Profesionalisme Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (SPA FEB UI), yaitu Auditing Group Discussion. Auditing Group Discussion tahun ini bekerja sama dengan PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia dan dilaksanakan secara daring melalui platform Google Meets. Acara ini diikuti oleh sepuluh orang fungsionaris Auditing Study Division SPA FEB UI dan tujuh mahasiswa Akuntansi FEB UI yang telah berhasil terpilih atas jawabannya pada Auditing Group Discussion Quiz.

Tema yang diangkat oleh Auditing Group Discussion kali ini adalah “Maximizing the Value of Internal Audit in the Face of Crisis” yang bertujuan untuk menambah wawasan peserta mengenai peran dan fungsi audit internal dalam keadaan krisis. Acara dibuka dengan penyampaian ekspektasi dan harapan dari pelaksanaan Auditing Group Discussion serta perkenalan dari pihak PwC Indonesia.

Diskusi diawali dengan pemaparan materi oleh Ibu Meita Laimanto, Ibu Merry Hartono, Ibu Made Jayanti, dan Ibu Sanny Eriesty mengenai gambaran singkat mengenai audit internal. Kemudian, dilanjutkan dengan penjelasan mengenai praktik audit internal dan hal-hal apa saja yang harus diperhatikan dalam menjalankan praktik audit internal tersebut terutama dalam masa krisis pandemi seperti sekarang ini. Terakhir, mereka menjelaskan bagaimana audit internal diharapkan untuk memberikan nilai yang lebih terhadap perusahaan di masa depan.

Audit Internal merupakan pekerjaan yang membutuhkan kreativitas tinggi dan pemikiran out of the box. Pada awalnya, keberadaan fungsi audit internal hanya menjadi sebuah kewajiban dalam perusahaan yang sudah terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, audit internal semakin dipandang sebagai suatu hal yang dapat memberikan keuntungan serta nilai lebih. Audit internal tidak lagi hanya memeriksa dan memastikan, tetapi juga memberikan saran yang dapat meningkatkan efektivitas perusahaan. Oleh sebab itu, kreativitas auditor internal diperlukan untuk memberikan saran yang bersifat value added bagi perusahaan.

Melalui pemaparan materi dan diskusi yang telah dilakukan, audit internal  merupakan third line of defense yang dimiliki oleh sebuah perusahaan yang berperan secara independen terhadap fungsi-fungsi lainnya. Tata kelola, kontrol, dan risk management merupakan beberapa dari fungsi audit internal tersebut. Audit internal diharapkan dapat mengetahui kekurangan-kekurangan yang ada dalam tata kelola, kontrol, dan risk management serta memberikan saran untuk memperbaikinya. Audit internal akan memperhatikan kondisi perusahaan secara menyeluruh  sehingga memungkinkan seorang auditor internal untuk mengetahui penyebab-penyebab permasalahan yang nantinya akan terlihat dalam laporan keuangan.

Dewasa ini, kebutuhan akan peran audit internal dalam perusahaan semakin disadari. Hal tersebut menyebabkan tuntutan lebih terhadap fungsi audit internal. Auditor internal tidak lagi hanya berperan sebagai watchdog, tetapi juga dituntut untuk dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai perusahaan kepada stakeholders. Perubahan peran ini juga menyebabkan adanya ekspektasi lebih terhadap nilai yang ditawarkan audit internal.

Di masa depan, terdapat beberapa nilai lebih yang dapat ditawarkan audit internal. Auditor internal dapat berperan sebagai rekan bisnis yang strategis dan menjadi penggerak perubahan dalam sebuah perusahaan. Akan tetapi, nilai-nilai tersebut hanya dapat terwujud jika perusahaan memberikan investasi dan dukungan yang sepadan dengan nilai yang diharapkan dari fungsi audit internal. Investasi dan dukungan dapat diberikan dalam bentuk penyediaan teknologi untuk memudahkan pelaksanaan audit internal, termasuk inisiatif manajemen untuk turut mengadopsi teknologi tersebut.

Keadaan krisis, khususnya pandemi COVID-19 yang sedang melanda pada saat ini, merupakan sebuah tantangan bagi berbagai industri. Dalam keadaan ini, audit internal, sebagai salah satu fungsi esensial yang dimiliki perusahaan, harus mampu memaksimalkan nilainya. Nilai audit internal dapat dimaksimalkan melalui adaptasi dan pengembangan perusahaan dalam adopsi tools untuk memudahkan fungsi audit internal. Saat kondisi tersebut dipenuhi, audit internal dapat bertransformasi dari watchdog perusahaan menjadi advisor bagi perusahaan sehingga audit internal mampu memberikan nilai dan kontribusi yang lebih bagi perusahaan dalam keadaan krisis.

Diskusi ini berlangsung dengan lancar dan interaktif. Terdapat interaksi dua arah antara peserta dengan fasilitator melalui pemaparan materi yang diselingi dengan tanya jawab antara peserta dengan fasilitator. Setelah diskusi berlangsung selama sekitar 140 menit, Auditing Group Discussion ditutup dengan ucapan terima kasih dan diadakannya sesi foto bersama dengan para fasilitator dari PwC Indonesia. Kami, Auditing Study Division SPA FEB UI, berterima kasih atas partisipasi dan kerja sama dari berbagai pihak untuk menyukseskan acara ini. Sampai jumpa pada Auditing Group Discussion selanjutnya!

Pada hari Rabu dan Kamis, 23-24 September 2020 yang lalu telah dilaksanakan Audit Simulation 2020. Acara ini merupakan program kerja dari Auditing Study Division SPA FEB UI yang ditujukan untuk mahasiswa S1 Akuntansi Program Reguler/Paralel/Kelas Khusus Internasional angkatan 2017 dan 2018. Tahun ini, Audit Simulation untuk pertama kalinya dilaksanakan secara daring. Audit Simulation 2020 mengangkat tema “Experiencing Audit from Home” dengan kembali menyimulasikan audit forensik di samping audit umum. Tujuan diadakannya acara ini adalah menjadi wadah bagi para mahasiswa S1 Akuntansi untuk menyalurkan ketertarikannya di bidang audit eksternal dan audit forensik, dengan harapan peserta Audit Simulation mendapat gambaran pekerjaan seorang auditor.

Acara yang diikuti oleh 60 mahasiswa program studi Akuntansi FEB UI ini berlangsung selama 2 hari. Rangkaian acara diawali dengan EY Goes to UI yang dilaksanakan pada Rabu, 23 September 2020 pukul 14.00 – 17.30 WIB menggunakan platform Microsoft Teams dari pihak Ernst & Young Indonesia. Pada hari pertama ini, pihak Ernst & Young Indonesia memberikan company presentation tentang perusahaannya. Acara ini dibuka untuk seluruh mahasiswa Universitas Indonesia dari semua jurusan yang dihadiri oleh 244 peserta. Setelah company presentation, acara ini dilanjutkan dengan mini seminar yang ditujukan kepada peserta Audit Simulation 2020. Sesi ini berisi tentang gambaran praktik audit, mulai dari audit secara umum hingga audit forensik secara khusus sehingga peserta memiliki bekal untuk melakukan praktik audit pada acara inti esok hari. 

Acara inti Audit Simulation dilaksanakan pada Kamis, 24 September 2020 yang berlangsung pada pukul 10.35 – 16.50 WIB menggunakan platform Zoom. Acara dimulai sekitar pukul 10.35 WIB dengan rangkaian acara pembukaan berupa sambutan dari Project Manager Audit Simulation 2020, Jo Regine Richardo dan pihak Ernst & Young Indonesia, Ibu Dian D. Atmaja. Sambutan terakhir diberikan oleh Kepala Departemen Akuntansi FEB UI, yakni Ibu Ancella Hermawan. 

Acara inti dari Audit Simulation adalah pengerjaan kasus audit di lima pos yang disediakan panitia. Kelima pos tersebut adalah pos Account Receivable, pos Account Payable & Accrual, pos Audit Forensic, pos Prepayment, dan pos Payroll. Di setiap pos tersebut, terdapat empat tim yang diberikan waktu 40 menit untuk menyelesaikan case yang diberikan. Peserta berperan sebagai Associate yang bertugas mengumpulkan data dan mencari temuan dalam setiap posnya untuk menyelesaikan working paper. Peserta sebagai Associate juga didampingi oleh fasilitator dari Ernst & Young Indonesia yang berperan sebagai Senior Associate atau Client. Senior Associate bertugas untuk memberikan arahan kepada para Associate (peserta), sedangkan Client akan memberikan data-data yang dibutuhkan oleh para peserta. Setelah mengerjakan case, pihak Ernst & Young memberikan feedback dan case solution.

Setelah seluruh pengerjaan case selesai, rangkaian acara terakhir adalah pemberian feedback dan kesimpulan dari pelaksanaan Audit Simulation secara keseluruhan. Foto bersama antara peserta, panitia, dan fasilitator dari Ernst & Young Indonesia menjadi penutup acara Audit Simulation 2020: Experiencing Audit from Home. Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta yang telah mengikuti acara Audit Simulation dan pihak Ernst & Young Indonesia yang telah memfasilitasi acara ini. Sampai bertemu di Audit Simulation tahun depan!

Pada hari Rabu, 27 November 2019 telah berlangsung salah satu program kerja Auditing Study Division Studi Profesionalisme Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (SPA FEB UI) yaitu Group Discussion di kantor Ernst & Young (EY) Indonesia. Acara ini diikuti oleh sembilan pengurus Auditing Study Division dan lima mahasiswa Akuntansi FEB UI yang terpilih melalui Group Discussion Quiz. Group Discussion kali ini mengangkat tema “Save the World Through Environmental Audit” yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan kesadaran peserta akan pentingnya environmental audit bagi perusahaan dan stakeholder terkait. Group Discussion dibawakan oleh tiga orang perwakilan dari EY Indonesia yang terdiri dari Ibu Ika Merdekawati, Manager dari Divisi Climate Changes and Sustainability Services sebagai pemateri utama kali ini, didampingi oleh Ibu Michelle Tjia dan Ibu Meri Heryani.

 

Diskusi dibagi menjadi lima sesi utama. Sesi pertama membahas mengenai Sustainability and Climate Changes secara umum. Berdasarkan pemaparan yang diberikan oleh Ibu Ika, sustainability adalah bagaimana suatu entitas menghasilkan value yang berguna dalam jangka panjang dengan menggunakan opportunity yang ada dan melalui manajemen risiko atas kegiatan perusahaan yang berdampak pada faktor sosial, lingkungan, dan ekonomi. Upaya untuk mewujudkan terjadinya sustainability ini dilakukan dalam skala internasional maupun nasional. Dalam skala internasional terdapat beberapa forum maupun perjanjian terkait sustainability seperti COP 21 Paris, Global Reporting Initiative (GRI) Standards, serta Sustainable Stock Exchange Initiative. Indonesia sendiri berperan mewujudkannya melalui perjanjian untuk mengurangi emisi karbon hingga 26% di tahun 2020 dan 29% di tahun 2030. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan selaku pengatur lembaga keuangan di Indonesia juga telah mengeluarkan regulasi berupa POJK No. 51/POJK.03/2017 dan POJK No. 60/POJK.04/2017 terkait sustainable financial action yang bertujuan untuk mengatur penyaluran dana dari institusi keuangan kepada perusahaan yang memiliki sustainability report kurang baik.

 

Sesi berikutnya membahas mengenai Sustainability Challenges in Indonesia. Terdapat tiga tantangan utama untuk mewujudkan sustainability di Indonesia, yaitu kebijakan yang kurang efektif, kurangnya pengetahuan dan kesadaran terkait lingkungan, serta tidak adanya aksi nyata untuk mencapai Sustainability Development Goals (SDG) oleh pemerintah Indonesia. Alasan ini didukung oleh fakta bahwa Indonesia telah kehilangan hampir 40% hutan mangrovenya, dan Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Hal ini menyebabkan dana yang dibutuhkan untuk mencapai SDG berdasarkan dokumen Low Carbon Development Initiatives (LCDI) yang dirilis oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sangat tinggi. Berdasarkan dokumen tersebut, diperlukan investasi sebesar US$14.8 miliar per tahun untuk mengurangi emisi hingga 20% di tahun 2020 dan tambahan investasi sebesar US$40.9 miliar per tahun untuk mengurangi emisi sebesar 29% di tahun 2030. Pelaksanaan LCDI ini menjadi penting karena dapat meningkatkan pertumbuhan gross domestic product (GDP) hingga 6%, mengurangi tingkat kematian hingga 40.000 kasus kematian akibat emisi, hingga peningkatan kualitas udara yang belakangan ini semakin memburuk akibat aktivitas pembakaran hutan maupun pabrik.

 

Untuk menghadapi tantangan tersebut, peran laporan non-finansial seperti sustainability report menjadi penting. Tren saat ini juga memperlihatkan bahwa investor pun mulai memperhatikan laporan non-finansial untuk memutuskan kemana mereka akan menginvestasikan uang mereka. Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) yang menjadi insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan performa sustainability mereka. Insentif tersebut berupa label yang disematkan bagi perusahaan dengan sustainability performance yang baik. Selain insentif tersebut, perusahaan juga mendapat keuntungan lain seperti mengurangi risiko terhadap munculnya gugatan hukum dan dijatuhkannya sanksi, meningkatkan performa finansial dan operasional perusahaan, serta meningkatkan komunikasi dengan stakeholder terkait performa perusahaan dari segi sustainability.

 

Parameter dalam menilai sustainability performance perusahaan ialah melalui sustainability report assurance yang berfungsi untuk menggambarkan kredibilitas komitmen perusahaan terhadap sustainability. Dengan melakukan assurance terhadap sustainability report perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan seluruh stakeholder serta meningkatkan value dari perusahaan. Framework yang digunakan dalam sustainability report assurance berbeda dengan financial report assurance. Perbedaanya terletak pada tiga hal, yakni subjek dan kriteria yang digunakan, prinsip-prinsip yang diterapkan, serta prosedur yang dilakukan. Terdapat dua standar yang digunakan dalam melakukan sustainability report assurance yaitu ISAE 3000 dan SPA 3000. Dari keduanya, ISAE 3000 menjadi standar yang lebih sering digunakan dalam melakukan sustainability report assurance.

 

Setelah berjalan selama 120 menit, acara ditutup dengan pemberian penghargaan kepada ketiga pemateri dari EY Indonesia. Melalui Group Discussion ini, kami berharap peserta bisa mendapatkan gambaran terkait environmental audit serta pentingnya audit terhadap laporan non-finansial seperti sustainability report. Sampai jumpa pada Auditing Group Discussion selanjutnya!

Pada hari Kamis, 26 September 2019 yang lalu telah dilaksanakan Audit Simulation 2019. Acara ini merupakan program kerja dari Auditing Study Division SPA FEB UI yang ditujukan untuk mahasiswa S1 Akuntansi Program Reguler/Paralel/Kelas Khusus Internasional angkatan 2016 dan 2017. Tahun ini, Audit Simulation mengangkat tema “Sense the Novelty in Auditing World” yang memasukkan satu topik baru di salah satu posnya, yaitu audit forensik. Tujuan diadakannya acara ini adalah menjadi wadah bagi para mahasiswa S1 Akuntansi untuk  menyalurkan ketertarikannya di bidang audit eksternal dan audit forensik, dengan harapan peserta Audit Simulation mendapat gambaran tentang bagaimana rasanya menjadi seorang auditor.

Kata Sambutan dari Pihak EY

Acara dibuka sekitar pukul 10.42 WIB dengan rangkaian acara pembukaan berupa sambutan dari Project Manager Audit Simulation 2019, Mohammad Ilham, dan sambutan dari Chief Executive SPA FEB UI, Gavin Pradipta. Berikutnya adalah sambutan dari Kepala Departemen Akuntansi FEB UI, Ibu Ancella Hermawan, dan dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Yasir selaku Partner dan perwakilan dari Ernst & Young Indonesia.

Salah satu pos di dalam Audit Simulation 2019

Acara inti dari Audit Simulation adalah pengerjaan case audit di lima pos yang disediakan panitia. Kelima pos tersebut adalah pos Account Receivable, pos Account Payable, pos Audit Forensic, pos Property, Plant, and Equipment, dan pos Revenue. Di setiap pos tersebut, terdapat empat tim yang menyelesaikan case yang diberikan oleh fasilitator dalam waktu 25 menit. Peran peserta di sini adalah sebagai Associate. Associate bertugas untuk mengumpulkan data dan mencari temuan dalam setiap posnya untuk bahan menyelesaikan working paper. Peserta sebagai Associate juga didampingi oleh fasilitator dari Ernst & Young Indonesia yang berperan sebagai Senior Associate dan Client. Senior Associate bertugas untuk memberikan arahan kepada para Associate (peserta), sedangkan Client akan memberikan data-data yang dibutuhkan oleh para peserta. Setelah mengerjakan case, salah satu tim pada pos tersebut akan mempresentasikan working paper beserta temuannya dan dilanjutkan dengan feedback dari fasilitator.

Tim Terbaik Audit Simulation 2019

Setelah seluruh pengerjaan case selesai, rangkaian acara terakhir adalah pemberian feedback dan kesimpulan dari pelaksanaan Audit Simulation secara keseluruhan. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pemberian penghargaan kepada fasilitator Audit Simulation yaitu auditor-auditor dari Ernst & Young Indonesia. Kemudian, acara ditutup dengan pemberian hadiah kepada dua tim terbaik Audit Simulation tahun ini, yaitu kelompok 9 yang beranggotakan Kennard Edbert Adigunawan, Devyn Altan, dan Aurelia Serafina, serta kelompok 18 yang beranggotakan Athiyya Nabila Ayu, Aldo Silitonga, dan Muhammad Naufal Hardiza. Foto bersama antara peserta, panitia, dan fasilitator dari Ernst & Young Indonesia menjadi penanda berakhirnya acara Audit Simulation 2019: Sense the Novelty in Auditing World.

Pemberian plakat dan sertifikat kepada pihak EY dari SPA FEB UI

 

Seluruh peserta Audit Simulation bersama seluruh pihak EY

 

Pada hari Jumat, 6 September 2019 telah dilaksanakan kegiatan rutin dari Auditing Study Division Studi Profesionalisme Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (SPA FEB UI), yaitu Group Discussion, di kantor PricewaterhouseCoopers (PwC) Indonesia. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengurus Auditing Study Division beserta lima mahasiswa Akuntansi FEB UI yang telah terpilih melalui Auditing Group Discussion Quiz. Tema yang diangkat pada Group Discussion kali ini ialah ‘Importance of Non Financial Data to Enhance Audit Report Quality in the Era of Disruption’ dengan tujuan untuk menambah wawasan para peserta mengenai peran data non-finansial dalam proses audit di era disrupsi ini.

 

Acara dibuka dengan perkenalan dari pihak PwC Indonesia. Pemateri Group Discussion kali ini adalah Bu Prabandari Murti selaku pemateri utama yang juga merupakan Senior Manager dari Divisi Risk Consulting, didampingi oleh Bu Shirley Pranoto dan Bapak Paris Turnip sebagai fasilitator. Diskusi diawali dengan penjelasan Bu Prabandari mengenai pengertian data non-finansial. Data non-finansial adalah data-data yang berkaitan dengan dampak dari kegiatan bisnis yang dilakukan oleh suatu perusahaan. Terdapat banyak macam dari data non-finansial, namun diskusi kali ini fokus membahas dampak sosial dan lingkungan suatu perusahaan yang contohnya seperti upaya pengurangan emisi gas rumah kaca, pengelolaan sumber daya manusia, dan peningkatan sanitasi lingkungan. Konsep untuk memperhatikan hal-hal tersebut dikenal dengan istilah triple bottom line di mana suatu perusahaan tidak hanya memperhatikan keuntungan finansial, namun juga dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan. 

 

Konsep ini sejalan dengan munculnya tren responsible investor dalam dunia bisnis di mana para investor mulai mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan yang ditimbulkan oleh suatu perusahaan dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi. Namun, hal-hal tersebut belum tercakup dalam laporan keuangan saat ini. Maka dari itu, audited sustainability report dibutuhkan oleh para responsible investor untuk meninjau dan mendapat informasi-informasi terkait dampak sosial dan lingkungan suatu perusahaan. Sustainability report sendiri merupakan laporan mengenai informasi yang bertujuan agar perusahaan terkait akuntabel bagi seluruh pemangku kepentingan untuk tujuan kinerja perusahaan menuju pembangunan yang berkelanjutan. Walaupun begitu, sustainability report belum memiliki standar baku. Hal ini mengakibatkan sustainability report hanya dapat dilakukan limited review, meskipun di negara-negara yang sudah cukup maju dalam isu sustainability

 

Standar akuntansi dan audit saat ini masih berkutat pada hal-hal finansial saja tanpa memperhatikan dampak sosial maupun lingkungan sebagaimana yang disajikan pada konsep triple bottom line. Kekurangan dari standar akuntansi dan audit tersebut menimbulkan tuntutan untuk sebuah laporan yang lebih komprehensif yang memperhatikan tidak hanya aspek finansial, tetapi juga aspek sosial dan lingkungan. Dalam menghadapi tuntutan tersebut, muncul suatu laporan terintegrasi atau yang disebut dengan integrated reporting. Integrated reporting sendiri merupakan sebuah laporan ringkas  dan terintegrasi tentang bagaimana strategi, tata kelola dan remunerasi, kinerja dan prospek suatu organisasi menghasilkan penciptaan nilai dalam jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dengan adanya integrated reporting, para pembaca laporan tersebut diharapkan dapat mendapat informasi mengenai perusahaan secara lebih menyeluruh dibandingkan dengan informasi yang tersaji pada laporan keuangan saja.

 

Dari diskusi yang telah berlangsung, dapat disimpulkan bahwa data non-finansial memiliki peran yang penting di era disrupsi ini. Namun, data non-finansial masih belum bisa digunakan secara maksimal karena standar akuntansi dan audit belum menjangkau hal tersebut secara efektif. Padahal, data non-finansial juga penting untuk diketahui para stakeholder, terlebih dengan munculnya tren responsible investor. Dengan demikian, pengembangan standar audit perlu dilakukan agar hal-hal tersebut dapat teregulasi. 

 

Diskusi berlangsung dengan hangat dan interaktif, tercermin dengan antusiasme para peserta dalam mendiskusikan topik bersama pemateri. Setelah 150 menit diskusi ini berlangsung, Auditing Group Discussion diakhiri dengan pemberian penghargaan kepada para pemateri dan PwC Indonesia selaku fasilitator. Kami berharap para peserta mendapat wawasan baru mengenai data non-finansial serta perkembangan dunia audit pada umumnya. Sampai jumpa pada Auditing Group Discussion selanjutnya!

 

Berdasarkan Corruption Perception Index (CPI) 2017 yang dirilis oleh Transparency International, saat ini Indonesia masih berada di peringkat 96 dari 180 negara yang disurvei dengan skor 37 dari maksimal 100. Skor dan peringkat dalam CPI didapatkan dari hasil survei dan expert assessment yang dilakukan oleh Transparency International. Skor transparansi yang didapatkan Pemerintah Indonesia dapat dikatakan sangatlah kecil. Nilai ini juga sangat minim dibanding negara lain, terlihat dari peringkat CPI Indonesia yang berada dibawah 50 besar. Maka dari itu, angka tersebut menggambarkan tingkat korupsi di Pemerintah Indonesia yang masih menjadi masalah nyata dan perlu diperhatikan di Indonesia. Lantas apa peran BPK sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas manajemen dan akuntabilitas lembaga pemerintahan? Sebelumnya, mari kita lihat struktur, cara kerja, dan kinerja BPK terlebih dahulu.

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) merupakan suatu lembaga negara yang bebas dan mandiri dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. BPK bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Lembaga Negara Lainnya, Bank Indonesia, Badan Usaha Milik Negara, Badan Layanan Umum, Badan Usaha Milik Daerah, dan Lembaga atau Badan lain yang mengelola keuangan negara. Menurut UUD tahun 1945 Pasal 23F, anggota Badan Pemeriksa Keuangan dipilih oleh Dewan Perwakilan Rakyat dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah dan diresmikan oleh Presiden. Sementara, pimpinan BPK dipilih dari dan oleh anggota. Kepengurusan BPK terdiri dari 1 orang ketua (merangkap anggota), 1 orang wakil ketua (merangkap anggota), dan 7 anggota. Anggota BPK ini akan membawahi tiap-tiap divisi yang ada di dalam BPK. Sedangkan dalam melakukan audit, BPK memiliki staf tersendiri yaitu auditor. Auditor ini hanya merupakan pelaksana atau termasuk dalam pegawai negeri sipil.

Untuk melaksanakan tugasnya, BPK melakukan pemeriksaan kepada seluruh entitas yang menggunakan uang negara melalui tiga pemeriksaan. Pemeriksaan yang dilakukan meliputi audit laporan keuangan, audit kinerja, dan audit dengan tujuan tertentu. Dalam melakukan audit laporan keuangan, pemeriksaan BPK harus dilaksanakan sesuai dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) 2017. SPKN ini merupakan pembaharuan dari SPKN 2007 yang dinilai sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan standar audit internasional, nasional, maupun tuntutan kebutuhan saat ini. Sejak tahun 2016, BPK juga melakukan outsourcing dari Kantor Akuntan Publik (KAP) untuk membantu tugas BPK dalam mengaudit laporan keuangan. Hasil laporan dari KAP nantinya akan di-review dan dipertanggungjawabkan oleh BPK. Hal tersebut dilakukan karena kurangnya tenaga auditor di BPK untuk melaksanakan semua kegiatan pemeriksaan. Untuk melihat efektivitas suatu instansi, BPK melakukan audit kinerja yang dilakukan langsung oleh BPK sendiri. Dari hasil laporan audit tersebut, BPK dapat memberikan rekomendasi perbaikan-perbaikan yang dapat dilakukan instansi tersebut. Terakhir yaitu pemeriksaan yang dilakukan dengan tujuan tertentu. Pemeriksaan dengan Tujuan Tertentu (PDTT) merupakan pengujian dan review yang bersifat investigasi. PDTT dapat dilakukan untuk membantu pihak yang berwenang dalam pengusutan suatu kasus. Namun, BPK hanya berhak memberikan opini audit dan memberikan rekomendasi audit. Sehingga, bila terjadi dugaan korupsi atau kecurangan BPK hanya menyerahkan hasil audit kepada pihak yang berwenang yaitu Kepolisian, Kejaksaan, dan Komisi Pemberantas Korupsi (KPK).

Sejauh ini, BPK telah memberikan beberapa kontribusi untuk pemberantasan korupsi. Berdasarkan Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2018, selama periode 2003 s.d. 30 Juni 2017, BPK telah menyampaikan temuan pemeriksaan sebanyak 232 surat yang memuat 447 temuan pemeriksaan mengandung indikasi pidana senilai Rp33,52 triliun dan US$841,88 juta atau seluruhnya ekuivalen Rp45,65 triliun. Secara keseluruhan, temuan pemeriksaan BPK mengandung indikasi pidana yang sudah ditindaklanjuti oleh instansi yang berwenang sebanyak 425 temuan senilai Rp33,05 triliun dan US$763,50 juta atau seluruhnya ekuivalen Rp44,05 triliun. Sedangkan, temuan yang belum ditindaklanjuti atau belum diperoleh informasi lebih lanjut dari instansi yang berwenang sebanyak 22 temuan (5%) senilai Rp473,47 miliar dan US$78,38 juta atau seluruhnya ekuivalen Rp1,60 triliun.

Melihat hasil tersebut, memberikan gambaran pentingnya hasil temuan dari BPK untuk memberantas korupsi. Walaupun BPK tidak berwenang langsung mengatasi hal tersebut, tetapi laporan yang diberikan kepada pihak berwajib sangat berkontribusi untuk mengurangi korupsi. Berangkat dari hal tersebut, menunjukkan pentingnya ketepatan dari laporan audit BPK. Pemberian opini wajar tanpa pengecualian (WTP) memang bukan berarti suatu lembaga tidak melakukan korupsi. Opini WTP hanya mengartikan bahwa pemerintah dianggap telah menyelenggarakan prinsip akuntansi yang berlaku umum dengan baik. Meskipun begitu, hasil audit BPK tetaplah penting untuk membantu meningkatkan transparansi dan memberantas korupsi. Oleh karena itu, auditor BPK dituntut untuk tetap memiliki sikap yang independen. BPK perlu memberlakukan pengawasan dan kontrol yang lebih tepat sehingga tidak terjadi kecurangan antara entitas yang diperiksa dengan auditor. Independensi BPK menjadi hal utama yang harus diperhatikan BPK. BPK harus terbebas dari intervensi manapun termasuk partai politik. Namun, hal ini sangat sulit dicapai oleh BPK, mengingat dalam proses pemilihan anggota BPK sendiri diajukan oleh DPR. Meskipun terdapat peraturan yang melarang anggota BPK untuk masuk ke dalam partai politik tetapi tidak ada larangan mengenai latar belakang anggota BPK dalam partai politik.

Melihat beberapa data diatas, BPK sejatinya bukanlah badan yang berwenang mengungkap kasus korupsi. Namun, BPK tetap berkontribusi dalam membongkar kasus korupsi. Kita dapat melihat besarnya peran BPK dalam mengurangi angka korupsi di Indonesia. Peran tersebut dapat tercapai dengan maksimal bila BPK benar-benar menjadi lembaga yang independen dan menjunjung tinggi kode etik auditor. BPK juga dapat memaksimalkan kerja sama dengan KAP dalam mengaudit keuangan negara dan memberikan sosialisasi kepada KAP mengenai SPKN sehingga kinerja BPK dapat lebih terbantu. Dengan beberapa hal tersebut, diharapkan BPK dapat membuat pemerintahan menjadi lebih transparan dan bebas korupsi.

Daftar Referensi:

Badan Pemeriksa Keuangan RI. (2017). Gambaran Umum BPK RI. http://www.bpk.go.id/assets/files/storage/2017/12/file_storage_1512639232.pdf, diakses pada 22 Desember 2018.

Badan Pemeriksa Keuangan RI. Tugas dan wewenang Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BPK RI. http://www.bpk.go.id/page/tugas-dan-wewenang-ketua-wakil-ketua-dan-anggota-bpk-ri#, diakses pada 22 Desember 2018

Badan Pemeriksa Keuangan RI. Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun 2018. http://www.bpk.go.id/assets/files/ihps/2018/I/ihps_i_2018_1538459607.pdf, diakses pada 22 Desember 2018.

Badan Pemeriksa Keuangan RI. 20 KAP Akan Audit Pemerintah. www.bpk.go.id/news/20-kap-akan-audit-pemerintah, diakses pada 22 Desember 2018.

Badan Pemeriksa Keuangan RI. Jenis-Jenis Pemeriksaan BPK. http://tanjungpinang.bpk.go.id/?p=4927, diakses pada 26 Desember 2018.

Moreira, Patricia, & Rubio, Delia F. CORRUPTION PERCEPTIONS INDEX 2017. https://www.transparency.org/news/feature/corruption_perceptions_index_2017, diakses pada 22 Desember 2018.