,

Tantangan Akuntan di Bidang e-Commerce

Saat ini sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa internet telah menjadi bagian dari kebutuhan yang sangat kita perlukan. Oleh karena itu, perkembangan e-commerce di Indonesia saat ini telah menjadi sangat besar dan dapat dilihat dengan jelas. Dalam menghapi era digital yang sedang berkembang dengan pesat saat ini, seorang akuntan dituntut untuk turut menyesuaikan diri dalam menghadapi perkembangan tersebut. Tentunya e-commerce memiliki banyak dampak positif seperti meningkatkan pangsa pasar, menurunkan biaya operasional, meningkatkan customer loyalty, dan lain sebagainya. Dibalik segala kemudahan yang ditawarkan oleh e-commerce, tentunya terdapat pula efek samping yang menjadi tantangan bagi para akunta. Tantangan tersebut terletak pada pengakuan pendapatan pada penjualan barang, validasi transaksi, serta otorisasi dan keamanan transaksi.

 

Pengakuan Pendapatan

Berdasarkan PSAK 23 (R 2009) atau IAS 18 mengenai pendapatan, dinyatakan bahwa pendapatan hanya dapat diakui apabila memenuhi seluruh kebutuhan berikut, yaitu entitas telah memindahkan risiko dan manfaat kepemilikan barang secara signifikan kepada pembeli, entitas tidak lagi melanjutkan pengelolaan yang biasanya terkait dengan kepemilikan atas barang ataupun melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual, jumlah pendapatan dapat diukur dengan andal, kemungkinan besar manfaat ekonomi yang terkait dengan transaksi tersebut akan tersebut akan mengalir mengalir ke entitas, dan biaya yang terjadi atau akan terjadi sehubungan transaksi penjualan tersebut dapat diukur secara andal. Sering kali ketika melakukan penjualan, entitas tersebut melakukan pemindahan risiko bersamaan dengan pengalihan hak legal atas barang-barang. Tidak jarang pula hal ini tidak dapat diterima, maka perlu memberlakukan prinsip substansi mengungguli bentuk formal (Substance Over Form). Namun, apabila kondisi tersebut tidak dapat terpenuhi, meskipun pengalihan hak legal atas barang-barang telah dilakukan, pendapatan tidak dapat diakui. Sehingga diperlukan hukum yang lebih jelas untuk mengatur hal tersebut.

 

Validasi Transaksi

Dalam sistem e-commerce, pembeli dan penjual tidak secara langsung bertemu satu sama lain atau saling kenal pada sebelumnya. Sebagai akuntan, hal tersebut dapat menjadi pembuktian yang cukup ketika melakukan audit laporan keuangan atas asersi existence/occurrence. Pembuktian yang cukup juga dapat berasal dari data-data akuntansi dan infomasi pendukung lain yang relevan dan valid. Namun, pada sistem e-commerce, pembeli dapat memalsukan identitas dirinya dengan mudah dan melakukan transaksi. Hal ini akan membuat tidak validnya transaksi yang terjadi ketika dilakukan audit karena pembeli tersebut bukannya pembeli yang sesungguhnya. Untuk menangani hal ini, sistem keamanan dalam transaksi perlu untuk ditingkatkan sedemikian rupa agar pembeli tersebut dapat dipastikan keberadaannya.

 

Otorisasi dan Keamanan Transaksi

Ketika melakukan sebuah transaksi, diperlukan sebuah kesepakatan berdasarkan informasi yang simetris atau sama dari kedua belah pihak. Pada sistem tradisional, kesepakatan tersebut umumnya dilakukan diatas kertas yang dapat dijadikan bukti dan akan sulit untuk diubah isinya tanpa sepengetahuan dari pihak lainnya. Namun, dalam e-commerce, bukti-bukti transaksi tersebut seluruhnya dalam bentuk digital dan sangat rentan untuk dapat diubah oleh pihak lain yang memiliki keahlian di bidang tersebut dan kemudian melakukan penyangkalan atas transaksi yang telah dilakukan. Perlu kekuatan hukum untuk menyelesaikan masalah tersebut tetapi akan jauh lebih sulit untuk mengumpulkan data apabila pihak lain telah dapat mengubah bukti-bukti tanpa meninggalkan jejak. Untuk mencegah hal ini terjadi, perusahaan perlu untuk menggunakan pengamanan yang ketat dalam website atau aplikasi agar tidak mudah untuk dibajak oleh pihak lain.

 

Tantangan yang ada tidaklah membuat e-commerce menjadi sesuatu yang buruk dan tidak baik untuk digunakan. Sebaliknya, hal ini justru membuka kesempatan bagi akuntan yang dapat menyadarinya terlebih dahulu dan mengambil tindakan preventif untuk menjadi lebih baik dari yang lain. Akuntan perlu untuk dapat memperluas wawasannya terhadap ilmu lain yang terkait dengan bidang e-commerce. Tentunya tidak mudah untuk dapat menghadapi hal tersebut, tetapi dibalik setiap tantangan pasti terdapat peluang pula.

 

Daftar Pustaka

Santosa, Setyarini (Mei 2002), “Electronic Commerce: Tantangan Kompetensi Akuntan Dalam Menghadapi Isu Internal Kontrol”, Universitas Kristen Petra.

Brândas,Claudiu , Megan,Ovidiu dan Crãciunescu, Mariela (Agustus 2013), “Study on the Impact of E-Commerce on Tax and Accounting Activities”, West University of Timisoara, Romania.

Hicks, Julie (2004), “E-commerce and Its Impact on the Accounting Profession”, UNC Greensboro.

Romney, Marshall B. and Paul John Steinbart (2000), Accounting Information Systems, Eight Edition, New Jersey: Prentice-Hall, Inc.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *