,

Triple Entry Bookkeeping

Dalam perjalanannya, sistem akuntansi akan terus berubah mengikuti kebutuhan dan perkembangan jaman. Ketika sistem single entry muncul, sistem ini dipuji dengan alasan penggunaannya yang praktis dan mudah karena hanya perlu menjurnal sekali saja. Sistem ini biasanya digunakan oleh perusahaan dengan skala yang kecil. Namun, kelemahan dari sistem ini adalah risiko rentannya terjadi fraud terhadap transaksi keuangan sangat tinggi. Hingga pada akhirnya sekitar abad 1400, seorang matematikawan bernama Luca Pacioli meluncurkan buku Summa de Arithmetica Geometrica Proportiony et Proportionalita yang membahas tentang double entry bookkeeping dalam bab Tractatus de Computis et Scriptoris.

Sistem double entry ini tentu lebih baik dari sistem sebelumnya dimana pada sistem ini dalam pencatatannya harus dicatat dalam kolom debit dan kredit. Salah satu kelebihan dari penerapan metode ini adalah kemampuannya untuk menghindari angka yang negatif dengan memiliki dua kolom yaitu debit dan kredit. Dimana debit bisa berfungsi sebagai akun penambah jika suatu akun mengalami kenaikan dan sebaliknya kredit sebagai akun pengurang jika suatu akun mengalami penurunan. Sehingga dengan adanya kedua kolom tersebut tidak akan ada angka negatif dalam pencatatan transaksi karena jika terjadi penurunan akan dicatat dalam kolom kredit (untuk penurunan maupun kenaikan suatu akun tergantung pada saldo normal dari akun yang bersangkutan). Lalu seiring berjalannya waktu, pada tahun 1989 konsep triple entry bookkeeping untuk pertama kalinya muncul. Apakah itu triple entry bookkeeping dan bagaimanakah dampaknya pada sistem akuntansi di masa sekarang?

Triple Entry Bookeeping pertama kali diperkenalkan oleh Yuji Ijiri dalam essaynya Triple-Entry Bookeeping and Income Momentum. Dalam pelaksanaannya, sistem ini sedikit berbeda dengan double entry karena menggunakan 3 kolom yaitu debit, kredit, dan trebit. Akun tambahan trebit ini berfungsi untuk memberikan pemahaman tentang darimana pendapatan dan beban dihasilkan. Triple entry bookkeeping ini muncul karena kelemahan dari sistem double entry yang masih memanfaatkan data historis atau data sebelumnya untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada perusahaan di masa depan. Menurut Yuji, terdapat persamaan baru, yaitu:

Past = Present = Future

Persamaan tersebut menggambarkan inovasi baru dari triple entry bookkeeping yang menambahkan unsur future dalam persamaan. Arti dari persamaan tersebut adalah transaksi historis di masa lampau perusahaan merepresentasikan kondisi perusahaan saat ini, begitu pula transaksi perusahaan saat ini diharapkan dapat memberikan data yang prediktif tentang keadaan perusahaan di masa depan sehingga dapat membantu pemangku kepentingan yang ingin berinvestasi di perusahaan tersebut.

Untuk mempermudah pemahaman tentang konsep triple entry bookkeeping, Henke (1995) menganalogikan keuntungan perusahaan seperti perjalanan menggunakan mobil. Terkadang mobil berjalan maju, mundur, ataupun tidak berpindah sama sekali sama seperti keuntungan dalam perusahaan yang fluktuatif nilainya. Laporan posisi keuangan menunjukkan lokasi yang tepat dari mobil tersebut sedangkan laporan laba rugi menunjukkan seberapa cepat kendaraan tersebut melaju. Kecepatan mobil menggambarkan informasi kepada investor yang dapat digunakan untuk mengestimasi keadaan di masa depan. Dengan sistem triple entry yang menyediakan pembaca laporan keuangan mengenai angka-angka yang diperlukan untuk memperkirakan laba di masa depan berdasarkan transaksi saat ini dan masa depan. Jadi dengan analogi mobil ini dapat kita lihat bahwa triple entry bookkeeping memberi informasi kepada pembaca tentang seberapa cepat mobil dapat berjalan dan seberapa cepat mobil dapat berakselerasi maupun melambat berdasarkan situasi jalan di depan kendaraan.

Penggunaan triple entry bookkeeping juga dapat mengurangi risiko penipuan atau kesalahan lainnya dengan menjaga setiap pencatatan tidak terjadi bias. Namun, walaupun sistem triple entry bookkeeping ini sudah lama ditemukan, implementasi dari triple entry bookkeeping muncul setelah adanya bitcoin pada sekitar tahun 2006 atau 2007. Contohnya adalah software Fizcal yang menggunakan teknologi blockchain untuk mengimplementasikan triple entry bookkeeping dan menggunakan artificial intelligence untuk meningkatkan bisnis. Teknologi blockchain adalah buku besar yang berbentuk digital dan terdistribusi dimana teknologi ini bersifat otomatis dan terdesentralisasi. Ketika mencatat jurnal dalam blockchain, maka jurnal tersebut tidak dapat diedit, dihapus, maupun diubah oleh siapapun. Tentunya kontrol laporan keuangan akan lebih mudah karena harus melalui verifikasi pihak ketiga yaitu melalui blockchain. Hal ini juga dapat mengurangi ancaman keamanan karena sistem blockchain tidak dikelola dalam satu perusahaan saja namun secara desentralisasi serta enkripsi tingkat tinggi.

Sistem triple entry bookkeeping masih perlu dikembangkan lebih lanjut agar akuntan dapat beralih dari menggunakan data historis menjadi data prediktif untuk memprediksi keadaan perusahaan di masa yang akan datang. Sehingga investor maupun pemangku kepentingan perusahaan dapat memanfaatkan laporan keuangan perusahaan untuk memutuskan berinvestasi dalam perusahaan tersebut. Selain itu diperlukan pengembangan dari implementasi sistem triple entry bookkeeping agar dapat digunakan oleh berbagai jenis perusahaan.

Sumber

Henke, W. R. (1995, January 5). Triple Entry Accounting. Retrieved from WarrenHenke: http://www.warrenhenke.com/writing/essays/triple-entry-accounting

Ijiri, Y. (1986). A Framework for Triple-Entry Bookkeeping. The Accounting Review.

Pillay, I. (2017, November 18). What is Triple Entry Accounting. Retrieved from https://www.linkedin.com/pulse/what-triple-entry-accounting-iresh-pillay/

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *