Informasi Event IBEC FEB UI

Pada hari Minggu, 6 September 2020, telah dilaksanakan kegiatan Media and Visual Training oleh biro Media and Visual Communication dengan tema “Infographic Design: Visualization on Supporting Information Spread” yang diikuti oleh seluruh anggota biro Media and Visual Communication dan beberapa anggota dari Divisi Kajian SPA yaitu, Accounting Study Division, Audit Study Division dan Tax Study Division. Media and Visual Training adalah program kerja yang bertujuan untuk melatih keterampilan fungsionaris SPA dalam hal media. Tahun ini, Media and Visual Training berfokus pada pelatihan yang terkait dengan pembuatan artikel pada divisi kajian dan pembuatan infografis pada biro Media and Visual Communication.

Media and Visual Training dibuka dengan kata sambutan dari Denaneer Seroja sebagai penanggung jawab acara Media Training 2020. Kemudian, acara dilanjutkan dengan sesi pelatihan oleh Pak Agil Fitrah Febrianto sebagai trainer Media and Visual Training 2020. Setelah sesi pelatihan selesai, para peserta training diminta untuk membuat satu output infografis yang dikerjakan secara berkelompok. Setelah proses pengerjaan membuat infografis, output infografis tiap kelompok kemudian direview dan diberi komentar serta masukan oleh Pak Agil dan kelompok lain.

Semoga dengan telah terlaksananya program kerja Media and Visual Training SPA FEB UI 2020 dapat memberikan manfaat dan SPA FEB UI bisa menjadi lebih baik lagi kedepannya.

SPA FEB UI 2020
#BenchmarkOfExcellence

Pada hari Sabtu, 19 September 2020, telah dilaksanakan kegiatan HIMA Gathering oleh SPA FEB UI 2020 yang diikuti oleh seluruh fungsionaris SPA FEB UI, HIMASI UPN Veteran Yogyakarta, HIMAKU Telkom University, dan HMJ Akuntansi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. HIMA Gathering merupakan salah satu program kerja dari biro External Affair SPA FEB UI yang bertujuan memberikan kesempatan bagi seluruh fungsionaris SPA untuk melakukan studi banding dengan himpunan mahasiswa Akuntansi dari universitas lain.

Guest Hosting dibuka dengan kata sambutan dari Akmal Haidar selaku Chief Executive of SPA FEB UI serta Zaki dan Joce selaku PJ dari HIMA Gathering. Kemudian, acara dilanjutkan dengan presentasi mengenai profil dan program kerja dari ketiga himpunan. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai program kerja, fungsionaris dari setiap himpunan dibagi ke dalam 3 ruangan untuk melaksanakan Focus Group Discussion (FGD). Ruangan FGD ini bertujuan agar para peserta saling bertukar pikiran mengenai kegiatan himpunan terutama selama masa pandemi. Selanjutnya, hasil FGD akan dipresentasikan ke seluruh peserta.

Semoga SPA FEB UI, HIMASI UPN Veteran Yogyakarta, HIMAKU Telkom University, dan HMJ Akuntansi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa dapat terus menjalin hubungan yang baik ke depannya.

SPA FEB UI 2020
#BenchmarkOfExcellence

Pada hari Selasa, 11 Agustus 2020, telah dilaksanakan kegiatan iGreet oleh Ikatan Mahasiswa Akuntansi Gadjah Mada (IMAGAMA) FEB UGM yang diikuti oleh seluruh fungsionaris SPA FEB UI dan IMAGAMA FEB UGM. Guest Hosting merupakan salah satu program kerja dari biro External Affair SPA FEB UI yang bertujuan memberikan kesempatan bagi seluruh fungsionaris SPA untuk melakukan studi banding dengan himpunan mahasiswa Akuntansi dari universitas lain.

Guest Hosting dibuka dengan kata sambutan dari Chairman IMAGAMA FEB UGM, M. Aziz Putra Akbar, Orlando Charles sebagai penanggung jawab dari iGreet, dan Akmal Haidar selaku Chief Executive of SPA FEB UI. Kemudian acara dilanjutkan dengan presentasi mengenai profil dan program kerja dari kedua himpunan. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai program kerja dari masing-masing himpunan, terdapat sharing session per kelompok yang terdiri dari anggota SPA FEB UI dengan IMAGAMA FEB UGM. Para anggota saling bercerita selama sharing session, sehingga dapat mengenal satu sama lain.

Semoga SPA FEB UI dan IMAGAMA FEB UGM dapat terus menjalin hubungan yang baik kedepannya.

SPA FEB UI 2020
#BenchmarkOfExcellence


Content by
External Affair Bureau SPA FEB UI 2020

Indonesia Accounting Fair merupakan acara akuntansi berskala internasional terbesar dan tertua di Indonesia yang diselenggarakan oleh mahasiswa akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Tahun ini, Indonesia Accounting Fair melaksanakan acara ke-21nya dengan tema “A New Beginning: Developing Towards A Sustainable 2030”. Tema tersebut diangkat dengan mempertimbangkan pentingnya kesadaran terhadap sustainability di masa perkembangan ini. Mengikuti tahun-tahun sebelumnya, The 21st Indonesia Accounting Fair telah menjalankan fungsinya sebagai wadah bagi mahasiswa akuntansi untuk menguji kemampuan mereka serta untuk memberikan wawasan kepada para peserta terkait sustainability dalam masa perkembangan ini.

Press Release The 21st Indonesia Accounting Fair terkait COVID-19

Dengan adanya pandemi COVID-19, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, The 21st Indonesia Accounting Fair dilaksanakan secara online. Acara ini diadakan dari 19 hingga 24 April 2020 dan terdiri dari dua rangkaian acara, yaitu Accounting Competition dan Paper Conference Competition.  Dalam rangkaian acaranya, The 21st Indonesia Accounting Fair bekerja sama dengan beberapa pihak, seperti ACCA dan IAI sebagai rekan utama serta EY sebagai rekan Final Round Accounting Competition.

Publikasi Individual Test Accounting Competition

Accounting Competition merupakan acara The 21st Indonesia Accounting Fair yang berfungsi untuk menguji kemampuan dan wawasan akuntansi para peserta secara kuantitatif dan kualitatif. Accounting Competition tahun ini terdiri dari 4 rangkaian, yaitu Preliminary Round, Individual Test, Short Essay dan Final Round.

Publikasi Video Presentation Submission Paper Conference Competition

Paper Conference Competition diadakan sebagai wadah bagi mahasiswa untuk mengutarakan pendapat serta berpikir kritis dan inovatif terkait sustainability dan relasinya dengan akuntansi di masa modern ini. Tahun ini, dikarenakan format yang berupa online, Paper Conference Competition dilaksanakan dalam dua rangkaian saja, yaitu Preliminary Round dan Video Presentation.

 

Para Pemenang Kompetisi The 21st Indonesia Accounting Fair

Kami juga ingin mengucapkan selamat kepada para pemenang Accounting Competition serta Paper Conference Competition The 21st Indonesia Accounting Fair. Ucapan selamat kami berikan kepada:

Pemenang dari Accounting Competition:

Juara 1: Tim Sederhana (Universitas Pelita Harapan)

Juara 2: Tim Factotum (Universitas Indonesia)

Juara 3: Tim Bangan (Universitas Indonesia)

 

Pemenang dari Paper Conference Competition:

Juara 1: Tim Ravioli (Universitas Indonesia)

Juara 2: B Team (Universitas Gadjah Mada)

Juara 3: Tim Riang Bersinergi (Universitas Gadjah Mada)

 

Meskipun pelaksanaannya terhalang penyebaran virus COVID-19, The 21st Indonesia Accounting Fair tetap berlangsung dengan lancar dan menjadi perjalanan yang sangat seru! Kami juga tentunya akan terus memberikan yang terbaik untuk The 22nd Indonesia Accounting Fair. Jadi, persiapkan dirimu dan sampai jumpa!

Greetings, treasure seekers! 💰✨

An extreme odyssey to search hidden treasure might sound chilling, but the true treasure seekers will never pass it up!

We’re glad to announce that registration of TreasureQuesTST has officially opened!

Come and register yourself to win the IDR 5 million worth of prize through this link: tst-febui.com/competition

Wait no more to challenge yourself to take all the hidden treasures and prove you’re the true treasure seekers! 💎

#The21stTST
#SHINEtheBRIGHTEST

Diteruskan oleh
SPA FEB UI 2020
#BenchmarkOfExcellence

Pada hari Rabu, 4 Desember 2019 telah dilaksanakan program kerja rutin dari Tax Study Division Studi Profesionalisme Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (SPA FEB UI), yaitu Tax Group Discussion, di kantor Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Acara ini diikuti oleh sepuluh pengurus dari internal Tax Study Division SPA FEB UI dan tiga mahasiswa Akuntansi FEB UI yang telah berhasil memenangkan Tax Group Discussion Quiz. Pada kesempatan ini, Tax Group Discussion mengangkat tema “Reforming Indonesian Tax Administration System” yang bertujuan untuk menambah wawasan peserta mengenai perkembangan reformasi sistem administrasi perpajakan di Indonesia. Acara dibawakan oleh Bapak Mutaqin dari Tim Change Management, Bapak Ikhwanudin dari Direktorat P2 Humas, dan narasumber dari Direktorat Transformasi Proses Bisnis.

Acara dibuka dengan kata sambutan dan perkenalan dari DJP serta penyampaian ekspektasi dan harapan dari Tax Group Discussion ini. Diskusi diawali dengan pemaparan dari Bapak Mutaqin yang memberikan gambaran atas kondisi reformasi perpajakan di Indonesia dan pentingnya peran tim change management dalam mengawal dan mengawasi perubahan. Selanjutnya, acara dilanjutkan oleh Bapak Ikhwanudin dari Direktorat Jenderal Pajak yang menjelaskan tentang pelayanan perpajakan pada Era Revolusi Industri 4.0

Secara umum, reformasi perpajakan merupakan perubahan sistem perpajakan yang menyeluruh, termasuk pembenahan administrasi perpajakan, perbaikan regulasi, dan peningkatan basis perpajakan. Pada saat ini, Indonesia telah menjalankan Reformasi Perpajakan Jilid III yang bergulir sejak tahun 2017-2020. Latar belakang dari reformasi perpajakan ini adalah tingkat kepatuhan wajib pajak yang rendah, target penerimaan negara yang setiap tahun meningkat, jumlah sumber daya manusia (SDM) yang tidak sebanding dengan pertambahan wajib pajak, perkembangan ekonomi digital dan kemajuan teknologi yang sangat pesat, serta aturan yang mengantisipasi perkembangan transaksi perdagangan. Reformasi Perpajakan Jilid III berfokus pada lima pilar, yaitu organisasi, SDM, teknologi informasi dan basis data, proses bisnis, dan peraturan perundang-undangan. Pilar teknologi informasi dan basis data serta proses bisnis merupakan suatu hal yang penting dan krusial dalam mencapai reformasi sistem administrasi perpajakan.

Reformasi sistem administrasi perpajakan dilatarbelakangi urgensi terhadap pembaruan Sistem Informasi Direktorat Jenderal Pajak (SIDJP) yang telah dibangun sejak tahun 2002. Urgensi tersebut terkait dengan tantangan di masa yang akan datang, kondisi terkini dari SIDJP, dan penerapan Tax Administration Diagnostic Assessment Tool (TADAT).

Tantangan di masa yang akan datang terkait dengan: (1) peningkatan beban kerja; (2) adanya kebutuhan pertukaran informasi; dan (3) perubahan teknologi mutakhir. Peningkatan beban kerja didasarkan pada peningkatan jumlah wajib pajak dan data yang berasal dari e-faktur, e-filing, Instansi, Lembaga, Asosiasi, dan Pihak Ketiga Lainnya (ILAP), Automatic Exchange of Information (AEoI), dan peserta Tax Amnesty. Kebutuhan pertukaran informasi berkaitan dengan komitmen Indonesia bergabung dalam AEoI dan dibutuhkannya sistem yang mampu menjamin validitas, kerahasiaan, dan kecepatan pertukaran data. Perkembangan teknologi mutakhir didorong dengan terjadinya perubahan rekayasa keuangan dan bisnis serta Artificial Intelligence.

Untuk kondisi SIDJP saat ini, sistem yang dimiliki belum mencakup keseluruhan administrasi core business pajak. SIDJP belum dapat melakukan konsolidasi data pembayaran, pelaporan, penagihan, dan core business pajak lainnya melalui sistem akuntansi yang terintegrasi. Selain itu, teknologi yang digunakan dalam SIDJP sudah out of date sehingga sulitnya dilakukan pengembangan. Indonesia juga harus mengikuti standar administrasi perpajakan internasional atau TADAT yang menjadi pedoman dalam melakukan reformasi administrasi perpajakan di Indonesia.

Berdasarkan urgensi di atas, DJP melakukan Pembaruan Sistem Inti Administrasi Perpajakan (PSIAP) atau new core tax system sebagai solusi untuk menjawab tantangan dan menyelesaikan permasalahan kini dari SIDJP. New core tax system adalah sistem mobile yang dapat mengintegrasikan 21 proses bisnis dan meningkatkan proses bisnis dengan menggabungkan layanan edukasi, layanan Interaktif, dan layanan transaksi menjadi satu. Sistem ini memiliki kemampuan untuk melakukan digitalisasi interaksi dengan wajib pajak, advanced analytics, otomasi proses, serta kolaborasi dan governor preneurship. New core tax system menawarkan fitur proses bisnis yang menggunakan taxpayer account, compliance risk management (CRM), document management system (DMS), database yang terpusat, dan business intelligence. Pada saat ini, new core tax system masih dalam tahap pengadaan dan tahap pengembangan akan dilakukan pada tahun 2020.

Pada saat ini, DJP sendiri telah melakukan digitalisasi proses bisnis dengan memanfaatkan teknologi yang terus berkembang. Implementasi teknologi yang dapat dirasakan oleh Wajib Pajak adalah kemudahan dalam melakukan pelaporan dan pembayaran pajak, seperti. e-Filing, e-SPT, e-Billing, e-Bupot, e-Faktur, dan sebagainya. Dampak penerapan teknologi terhadap jumlah pelaporan SPT Tahunan tercermin dari pertumbuhan pelaporan SPT jenis 1770, 1770S, 1770SS, dan 1771 yang meningkat sebesar 4.58% dari tahun 2018-2019.

Diskusi berlangsung dengan interaktif yang ditunjukkan dengan interaksi dua arah antara peserta dengan narasumber melalui sesi tanya jawab. Setelah diskusi berlangsung selama 120 menit, Tax Group DIscussion ditutup dengan pemberian plakat kepada Direktorat Jenderal Pajak sebagai bentuk penghargaan dari SPA FEB UI. Melalui Tax Group Discussion ini, peserta diharapkan dapat menambah wawasan mengenai reformasi sistem administrasi perpajakan di Indonesia dan semakin tertarik dalam menggali lebih lanjut isu perpajakan lainya. Sampai jumpa pada Tax Group Discussion selanjutnya!

Pada hari Rabu, 16 Oktober 2019 telah dilaksanakan kegiatan rutin dari Divisi Kajian Akuntansi Studi Profesionalisme Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (SPA FEB UI), yaitu Accounting Group Discussion, di I-SHELTER PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengurus Divisi Kajian Akuntansi beserta lima mahasiswa Akuntansi FEB UI yang terpilih melalui Accounting Group Discussion Quiz. Tema yang diangkat pada Group Discussion kali ini ialah “The Importance of Informing Sustainability Performance through Sustainability Report”. Tema ini diangkat atas dasar permasalahan lingkungan yang menjadi semakin serius pada belakangan ini. Dilansir dari Katadata (9 September 2019), Jakarta berada pada posisi ke-3 sebagai kota terpolusi di dunia yang menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat terhadap kebersihan dan kesehatan lingkungan masih terbilang kurang. Sustainability Report atau Laporan Keberlanjutan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban perusahaan kepada stakeholders atas kegiatan produksi yang tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Foto Bersama antara Pihak PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk dengan peserta Accounting Group Discussion

Acara dibuka dengan perkenalan dari pihak PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Pemateri Group Discussion kali ini adalah Bapak Gilang Pratama Nugraha Putra selaku Corporate Communication Officer dan Bapak Sahat Pangabean selaku CSRSD Manager PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Diskusi diawali dengan penjelasan Bapak Gilang Pratama mengenai media publikasi yang dimiliki oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Sebagai perusahaan dengan model bisnis B2B (Business to Business), PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, menggunakan media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Twitter sebagai salah satu media publikasi yang bertujuan untuk menangkal berita negatif dan memberi exposure kepada generasi baru. 

Pemberian Sertifikat kepada Bapak Gilang, Corporate Communication Officer PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Sesi kedua merupakan penjelasan Bapak Sahat Pangabean mengenai program CSR yang dilaksanakan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Bapak Sahat Pangabean menjelaskan bahwa PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. telah melaksanakan CSR sejak tahun 1999. CSR yang dilaksanakan oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk telah mengikuti pengelompokan berdasarkan standar yang dibuat oleh Bappenas, yaitu pembangunan sosial, ekonomi, lingkungan, serta hukum dan tata kelola. CSR yang telah dilaksanakan kemudian akan dimuat dalam Sustainability Report yang dirilis oleh PT Indocement setiap tahunnya sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada stakeholder yang ada.

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. memiliki tema spesifik atas setiap Sustainability Report yang dirilis. Penentuan tema dilakukan berdasarkan pada kesesuaian dengan tema Annual Report, wawancara yang dilakukan dengan President Director dan HR Director mengenai isu yang disorot, pencapaian pada tahun berjalan, prospek bisnis, serta urusan saat ini. Kehadiran Sustainability Report dikatakan telah memberi beberapa dampak positif bagi PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk seperti peningkatan efisiensi pekerjaan, pengurangan emisi, pemberdayaan sisa produksi, dan sebagainya. Walaupun demikian, menurut Bapak Sahat Pangabean, kehadiran Sustainability Report masih terbilang belum berpengaruh secara signifikan terhadap valuasi perusahaan. Hal tersebut disebabkan oleh masih rendahnya kesadaran masyarakat Indonesia akan lingkungan sekitar sehingga beberapa orang masih acuh tak acuh terhadap kelestarian lingkungan yang ada. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia masih terbilang belum peduli dengan kehadiran Sustainability Report dalam menentukan pemilihan produk, pemilihan investasi saham, dan lainnya. CSR masih terbilang belum menjadi hal yang dipromosikan secara gencar. Terlepas dari hal tersebut, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tetap merasa bahwa CSR merupakan hal yang penting dilakukan untuk keberlanjutan lingkungan.

Pemberian Plakat kepada Pihak PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. yang diwakili oleh Bapak Sahat

Sesi ketiga merupakan sesi tanya jawab antara peserta diskusi dengan pembicara, yaitu Bapak Sahat Pangabean dan Bapak Gilang Pratama. Sesi tanya jawab berlangsung dengan interaktif. Berbagai pertanyaan menarik dilontarkan oleh peserta diskusi dan dijawab dengan sangat baik oleh pembicara. Dari sesi tanya jawab tersebut, peserta Group Discussion menjadi tahu bahwa Sustainability Report masih terkadang menimbulkan konflik antara divisi CSR dan divisi Finance yang ada di PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. Hal tersebut disebabkan karena CSR merupakan bagian dari biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan. Namun, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk tetap berkomitmen untuk menjalankan CSR di Indonesia. Setelah 150 menit diskusi ini berlangsung, Accounting Group Discussion diakhiri dengan pemberian penghargaan kepada para pemateri dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. selaku fasilitator.

Kami ingin mengucapkan terimakasih kepada PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk atas dukungan yang telah diberikan pada Accounting Group Discussion, terutama kepada Bapak Gilang Pratama Nugraha Putra dan Bapak Sahat Pangabean, yang telah membawakan materi diskusi dengan sangat baik. Kami juga ingin berterima kasih kepada para peserta yang telah mengikuti rangkaian acara kami. Kami berharap para peserta mendapat wawasan baru mengenai pentingnya sustainability report serta pengaruhnya terhadap laporan keuangan. Sampai jumpa pada Accounting Group Discussion selanjutnya!

Pada hari Rabu, 27 November 2019 telah berlangsung salah satu program kerja Auditing Study Division Studi Profesionalisme Akuntan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (SPA FEB UI) yaitu Group Discussion di kantor Ernst & Young (EY) Indonesia. Acara ini diikuti oleh sembilan pengurus Auditing Study Division dan lima mahasiswa Akuntansi FEB UI yang terpilih melalui Group Discussion Quiz. Group Discussion kali ini mengangkat tema “Save the World Through Environmental Audit” yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan kesadaran peserta akan pentingnya environmental audit bagi perusahaan dan stakeholder terkait. Group Discussion dibawakan oleh tiga orang perwakilan dari EY Indonesia yang terdiri dari Ibu Ika Merdekawati, Manager dari Divisi Climate Changes and Sustainability Services sebagai pemateri utama kali ini, didampingi oleh Ibu Michelle Tjia dan Ibu Meri Heryani.

 

Diskusi dibagi menjadi lima sesi utama. Sesi pertama membahas mengenai Sustainability and Climate Changes secara umum. Berdasarkan pemaparan yang diberikan oleh Ibu Ika, sustainability adalah bagaimana suatu entitas menghasilkan value yang berguna dalam jangka panjang dengan menggunakan opportunity yang ada dan melalui manajemen risiko atas kegiatan perusahaan yang berdampak pada faktor sosial, lingkungan, dan ekonomi. Upaya untuk mewujudkan terjadinya sustainability ini dilakukan dalam skala internasional maupun nasional. Dalam skala internasional terdapat beberapa forum maupun perjanjian terkait sustainability seperti COP 21 Paris, Global Reporting Initiative (GRI) Standards, serta Sustainable Stock Exchange Initiative. Indonesia sendiri berperan mewujudkannya melalui perjanjian untuk mengurangi emisi karbon hingga 26% di tahun 2020 dan 29% di tahun 2030. Selain itu, Otoritas Jasa Keuangan selaku pengatur lembaga keuangan di Indonesia juga telah mengeluarkan regulasi berupa POJK No. 51/POJK.03/2017 dan POJK No. 60/POJK.04/2017 terkait sustainable financial action yang bertujuan untuk mengatur penyaluran dana dari institusi keuangan kepada perusahaan yang memiliki sustainability report kurang baik.

 

Sesi berikutnya membahas mengenai Sustainability Challenges in Indonesia. Terdapat tiga tantangan utama untuk mewujudkan sustainability di Indonesia, yaitu kebijakan yang kurang efektif, kurangnya pengetahuan dan kesadaran terkait lingkungan, serta tidak adanya aksi nyata untuk mencapai Sustainability Development Goals (SDG) oleh pemerintah Indonesia. Alasan ini didukung oleh fakta bahwa Indonesia telah kehilangan hampir 40% hutan mangrovenya, dan Indonesia juga tercatat sebagai negara dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Hal ini menyebabkan dana yang dibutuhkan untuk mencapai SDG berdasarkan dokumen Low Carbon Development Initiatives (LCDI) yang dirilis oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sangat tinggi. Berdasarkan dokumen tersebut, diperlukan investasi sebesar US$14.8 miliar per tahun untuk mengurangi emisi hingga 20% di tahun 2020 dan tambahan investasi sebesar US$40.9 miliar per tahun untuk mengurangi emisi sebesar 29% di tahun 2030. Pelaksanaan LCDI ini menjadi penting karena dapat meningkatkan pertumbuhan gross domestic product (GDP) hingga 6%, mengurangi tingkat kematian hingga 40.000 kasus kematian akibat emisi, hingga peningkatan kualitas udara yang belakangan ini semakin memburuk akibat aktivitas pembakaran hutan maupun pabrik.

 

Untuk menghadapi tantangan tersebut, peran laporan non-finansial seperti sustainability report menjadi penting. Tren saat ini juga memperlihatkan bahwa investor pun mulai memperhatikan laporan non-finansial untuk memutuskan kemana mereka akan menginvestasikan uang mereka. Oleh karena itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengeluarkan Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (PROPER) yang menjadi insentif bagi perusahaan untuk meningkatkan performa sustainability mereka. Insentif tersebut berupa label yang disematkan bagi perusahaan dengan sustainability performance yang baik. Selain insentif tersebut, perusahaan juga mendapat keuntungan lain seperti mengurangi risiko terhadap munculnya gugatan hukum dan dijatuhkannya sanksi, meningkatkan performa finansial dan operasional perusahaan, serta meningkatkan komunikasi dengan stakeholder terkait performa perusahaan dari segi sustainability.

 

Parameter dalam menilai sustainability performance perusahaan ialah melalui sustainability report assurance yang berfungsi untuk menggambarkan kredibilitas komitmen perusahaan terhadap sustainability. Dengan melakukan assurance terhadap sustainability report perusahaan dapat meningkatkan kepercayaan seluruh stakeholder serta meningkatkan value dari perusahaan. Framework yang digunakan dalam sustainability report assurance berbeda dengan financial report assurance. Perbedaanya terletak pada tiga hal, yakni subjek dan kriteria yang digunakan, prinsip-prinsip yang diterapkan, serta prosedur yang dilakukan. Terdapat dua standar yang digunakan dalam melakukan sustainability report assurance yaitu ISAE 3000 dan SPA 3000. Dari keduanya, ISAE 3000 menjadi standar yang lebih sering digunakan dalam melakukan sustainability report assurance.

 

Setelah berjalan selama 120 menit, acara ditutup dengan pemberian penghargaan kepada ketiga pemateri dari EY Indonesia. Melalui Group Discussion ini, kami berharap peserta bisa mendapatkan gambaran terkait environmental audit serta pentingnya audit terhadap laporan non-finansial seperti sustainability report. Sampai jumpa pada Auditing Group Discussion selanjutnya!

Pada Rabu, 2 Oktober 2019 telah diselenggarakan Tax Intercollegiate Forum (TIF) 2019 in Collaboration with Tax Education and Research Center (TERC) yang bertempat di Auditorium R. Soeria Atmadja FEB UI. Acara ini merupakan program kerja Tax Study Division Studi Profesionalisme Akuntan (SPA) FEB UI, yang tahun ini diselenggarakan bekerjasama dengan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) FEB UI. Pada tahun ini, TIF mengangkat tema besar “Forecasting and Analyzing Indonesia Taxation System”. TIF 2019 mendapat antusiasme yang sangat baik, setidaknya dihadiri oleh 300 peserta yang datang dari berbagai latar belakang profesi mulai dari mahasiswa, dosen, konsultan, dan akademisi yang berasal dari berbagai lembaga dan institusi pendidikan.

Peserta TIF 2019 Memenuhi Auditorium FEB UI

Acara dimulai pada pukul 14.17 dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya bersama-sama. Setelah itu, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Ari Kuncoro (Dekan FEB UI) yang dalam sambutannya mengapresiasi acara TIF dan hadirnya TERC sebagai bentuk contoh kolaborasi yang baik antara institusi pemerintah dengan pendidikan, khususnya pada penelitian di bidang pajak. Kemudian, Ibu Ancella A. Hermawan (Ketua Departemen Akuntansi) dalam sambutannya mengatakan acara seperti TIF dapat membantu para mahasiswa dan dosen untuk secara aktif melakukan pengembangan ilmu melalui penelitian-penelitian yang didukung dengan data-data terkini. Kemudian, Ibu Christine Tjen selaku Koordinator memberi paparan singkat mengenai TERC FEB UI yang merupakan wadah kegiatan untuk penelitian, edukasi, diskusi dan penyelidikan pajak terbaru. Kata sambutan yang terakhir dibawakan oleh Rektor UI, Muhammad Anis yang berharap agar nota kesepahaman antara UI dan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) yang ditandatangani pada hari dapat dijadikan tonggak awal kolaborasi & dukungan yang sinergis terkait penelitian kebijakan pajak yang diharapkan outputnya dapat diperoleh masukan dan evaluasi terhadap kebijakan pajak yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat Indonesia.

MoU Signing antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Universitas Indonesia (UI)

Penandatanganan MoU antara UI dan DJP

Setelah pemberian kata sambutan, acara TIF 2019 memasuki salah satu bagian inti acara yaitu penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) antara UI yang diwakili oleh Prof. Muhammad Anis didampingi Dekan FEB UI, Prof. Ari Kuncoro dan DJP yang diwakili oleh Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat (P2 Humas) DJP RI, Hestu Yoga Saksama didampingi Bapak Ikhwanudin. MoU ini merupakan simbol kerjasama dan komitmen DJP untuk menyediakan informasi perpajakan guna pengembangan pendidikan dan penelitian perpajakan serta UI diwakili TERC LPEM FEB UI yang berkomitmen menjadi wadah bagi mahasiswa dan dosen untuk secara aktif mengembangkan pendidikan dan penelitian di bidang perpajakan.

Keynote Session: “Indonesia Taxation Resilience: Turn Domestic and Global Threats into Opportunities”

Acara TIF 2019 selanjutnya memasuki bagian inti lainnya, yaitu Sesi keynote yang disampaikan oleh Direktur P2 Humas di DJP RI, Bapak Hestu Yoga Saksama. Secara garis besar, dalam presentasinya beliau memaparkan saat ini Indonesia sedang terhimpit tantangan perlambatan ekonomi global dan potensi stagnasi perekonomian Indonesia. Kebijakan perpajakan yang sudah ada seperti tax holiday, super deduction tax, tax reform dan corporate risk management (CRM) juga rencana perpajakan kedepan, yaitu omnibus law diharapkan akan mendorong iklim usaha yang kondusif & atraktif bagi investor, meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia & kepastian hukum, mendorong kepatuhan sukarela wajib pajak, dan menciptakan keadilan berusaha antara pelaku usaha dalam maupun luar negeri.

Dalam paparannya, DJP menerapkan tax holiday ditujukan kepada badan dalam negeri yang merupakan industri pionir, penanaman modal baru, ketentuan DER, dan badan hukum Indonesia. Kemudian, super deduction merupakan insentif pajak untuk mendorong keterlibatan pihak swasta agar turut aktif mengembangkan kualitas SDM Indonesia melalui pelatihan kerja. Kemudian dengan CRM, wajib pajak akan dipetakan berdasarkan potensi kepatuhannya. Dalam paparannya, beliau juga mengungkapkan mengenai 21 proses bisnis DJP di masa depan yang terdiri dari layanan edukasi, interaktif, dan transaksi. Mengenai omnibus law, beliau mengungkapkan hal ini merupakan perangkat UU tersendiri untuk menggantikan UU lama yang tak lagi relevan untuk diterapkan, substansi dari RUU ini adalah untuk meningkatkan pendanaan investasi, mendorong sistem perpajakan, mendorong kepatuhan wajib pajak sukarela, menciptakan keadilan iklim usaha, dan menempatkan fasilitas kedalam UU perpajakan.

Pemberian Plakat dari Dekan FEB UI kepada Bapak Hestu

Sesi Diskusi Panel dan Diskusi Komprehensif: “Synergy for Indonesia’s Future Taxation System”

Keempat Pembicara dalam Sesi Diskusi Panel & Komprehensif Dipandu Moderator

Sesi selanjutnya merupakan diskusi panel yang dipandu oleh moderator Ibu Christine Tjen dan diisi oleh empat pembicara, yaitu Bapak John Hutagaol, Ibu Sri Wahyuni, Bapak Darussalam, dan Bapak Vid Adrison. Keempat pembicara mengungkapkan sudut pandangnya mengenai arah kebijakan dan sistem perpajakan Indonesia kedepan dari sudut pandang masing-masing profesi.

Bapak John Hutagaol selaku Direktur Perpajakan Internasional DJP RI mengungkapkan paparannya dari sisi regulator perpajakan di Indonesia. Beliau mengatakan, kerjasama internasional dan kolaborasi terdiri dari komunikasi & teknologi informasi, base erosion profit shifting (BEPS), underground economy, globalisasi, informasi tidak sempurna, pertumbuhan ekonomi dunia akan menjadi fokus DJP kedepannya. Dengan perkembangan dunia digital yang pesat terkait perpajakan, Indonesia meresponnya dengan menjalankan tax administration yang berbasis website atau teknologi dengan ruang lingkup organisasi, business process, database & IT house development. Sedangkan, dalam merespon era digital, tax policy harus dijalankan dengan netral, efisien, simplicity, dan fairness.

Sri Wahyuni Sujono selaku Ketua Komite Tetap Perpajakan di Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dari pandangan pelaku usaha yang membayar pajak mengungkapkan bahwa keberadaan e-commerce di Indonesia baik dari dalam maupun luar negeri sudah banyak. Namun, e-commerce tersebut masih ada yang tidak dikenai oleh pajak. Harapan beliau selaku pelaku usaha atau pebisnis agar didorong melaksanakan kewajibannya untuk membayar pajak secara transparan, simple, dan kepastian hukum yang kuat.

Darussalam selaku Managing Partner Danny Darussalam Tax Center (DDTC) kemudian mengungkapkan pandangannya sebagai seorang pengamat dan konsultan pajak. Menurut beliau, menyambungkan pajak tidak hanya menyambungkan sekitar 75% untuk APBN, tetapi juga dapat menjamin proses state building yang mencakup pembaharuan kontrak fiskal, pembenahan governance, dan sekaligus memperkuat negara. Sekarang ini, tax ratio yang masih rendah merupakan tantangan yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, kunci keberhasilan dalam meningkatkan tax ratio terletak pada upaya memperoleh informasi sebagai alat untuk mengawasi kepatuhan wajib pajak.

Vid Adrison selaku Wakil Koordinator TERC dan Ketua Program Studi MPKP FEB UI menyampaikan sudut pandangnya sebagai akademisi. Menurutnya, berdasarkan laporan yang Ia baca pada Juli 2019 penyebab rendahnya penerimaan pajak adalah sebagian besar orang Indonesia kini keluar dari sistem pajak sebesar 42,5 Juta Wajib Pajak Orang Pribadi (WPOP). Selain itu, tingkat kepatuhan terhadap pajak masih rendah, yakni hanya 61% dari 18 Juta pembayar pajak yang mengajukan Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pada 1 April 2019. Pemahaman yang baik tentang perilaku wajib pajak akan memberikan informasi yang berguna untuk kebijakan pajak yang baik. Bagi mereka yang di bawah ambang batas untuk digolongkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) berpikir membayar pajak bukanlah hal yang wajib. Padahal, PKP mempunyai manfaat yaitu mampu mengklaim Pajak Pertambahan Nilai (PPN) input yang dibayarkan & menurunkan basis pajak untuk perhitungan PPN, mampu menerbitkan faktur PPN berbayar untuk produk yang dijual, dan lebih banyak bisnis akan tertarik untuk melakukan bisnis dengan perusahaan karena perusahaan lain dapat mengklaim PPN yang dibayar.

Kemudian, setelah keempat pembicara mengemukakan pandangannya acara dilanjutkan dengan diskusi komprehensif. Dalam sesi ini, dipandu moderator secara bersamaan keempat pembicara saling memberi tanggapan atas pandangan mengenai perpajakan Indonesia. Setelah itu, terdapat sesi tanya jawab antara pembicara dengan para audiens yang hadir. Acara kemudian ditutup dengan pemberian plakat dan sertifikat kepada pembicara juga foto bersama antara pembicara dan Penanggung Jawab TIF 2019.

Foto Bersama PJ TIF 2019, Pembicara, dan Moderator

Terimakasih atas partisipasi peserta yang telah hadir dalam Acara TIF 2019, sampai jumpa di acara TIF tahun depan!

Pada hari Sabtu, 21 September 2019, telah berlangsung acara HIMA Gathering Guest Hosting SPA FEB UI 2019. Guest Hosting merupakan salah satu program kerja dari biro External Affair SPA FEB UI berupa acara gathering himpunan mahasiswa akuntansi dengan tujuan untuk menjalin hubungan yang baik dan bertukar pikiran dengan perwakilan mahasiswa akuntansi lainnya. Tahun ini, Guest Hosting dihadiri oleh beberapa perwakilan dari berbagai Himpunan Mahasiswa diantaranya: KOSTAF FIA UI, FORMASI STIE Bhakti Pembangunan Jakarta, HIMAKU STIE Pelita Bangsa, HMPSA Universitas Katolik Parahyangan, HiMA Unika Atma Jaya, HMJ AKS1 UPN Veteran Jakarta, HIMASI STIE EKUITAS, ASA Prasetiya Mulya, dan HM KMJ Akuntansi Unjani.

HIMA Gathering Guest Hosting 2019

HIMA Gathering Guest Hosting dimulai pukul 8.45 WIB bertempat di Aula Student Center Lt.2 FEB UI. Acara ini dimulai dengan kata sambutan dari Penanggung Jawab HIMA Gathering Guest Hosting, Gerardine Patricia dan Errell Abrahamsyach Alvino, serta sambutan dari Chief Executive SPA FEB UI, Gavin Pradipta. Kemudian acara dilanjutkan dengan ice breaking bermain musical chairs dengan seluruh peserta.

Ice Breaking Musical Chair

Terdapat 46 Peserta dari 9 himpunan yang hadir dalam HIMA Gathering Guest Hosting

Sesi selanjutnya adalah sesi presentasi singkat dari SPA FEB UI serta profil dan program kerja dari seluruh himpunan yang hadir. Sesi ini bertujuan agar seluruh peserta dapat saling mengetahui satu sama lain dan belajar dari program kerja himpunan lainnya.

Presentasi Singkat dari himpunan lainnya

Untuk berbagi pengalaman mengenai masalah yang pernah dihadapi dalam berorganisasi oleh para peserta, panitia telah menyiapkan sesi studi kasus yang akan dipandu oleh masing-masing moderator pada tiap kelompok. Studi kasus yang tersedia merupakan seputar permasalahan yang sering terjadi dalam organisasi khususnya Himpunan Mahasiswa Akuntansi. Peserta diminta untuk membuat solusi dari setiap kasus, dituliskan di karton, dan dipresentasikan setelah selesai berdiskusi.

Diskusi Studi Kasus

Presentasi Hasil Diskusi Studi Kasus

Sesi berikutnya merupakan games yaitu bermain kahoot dan yang dilanjutkan dengan penyerahan sertifikat dari SPA FEB UI kepada perwakilan dari tiap himpunan mahasiswa oleh Gavin Pradipta.

Penyerahan Sertifikat kepada HIMA yang terlibat

Acara dilanjutkan dengan pembacaan Dream Organization dari tiap peserta yang sudah dituliskan di karton Dream Organization, kemudian diakhiri pukul 14.00 WIB dengan campus tour dan foto bersama di depan kolam makara.

Campus Tour bersama peserta HIMA Gathering

Foto bersama seluruh peserta HIMA Gathering di depan Kolam Makara